Monday, July 31, 2023

FOOD SECURITY oleh Rhenald Kasali - Founder Rumah Perubahan. Sebuah Tulisan Arsip Lama dari LINE VOOM di Tahun 2017

Selain tulisan mengenai "petani yang terancam punah" yang sebelumnya saya post sebelum postan ini, salah satu tulisan yang ingin posting kembali dari arsip LINE VOOM saya di tahun 2017 adalah tulisan mengenai Food Security dari Pak Rhenald Kasali. Semoga menjadi tulisan ini jadi pengingat bahwa kita harus terus memperbaiki sektor pertanian di Indonesia dengan langkah-langkah kecil yang bisa kita lakukan. Selamat menyimak!


 FOOD SECURITY

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

 

 

Bila dua-tiga bulan lalu bangsa ini heboh membicarakan energy security, maka sebulan terakhir kita sibuk membicarakan pangan. Food dan energy adalah sebuah kesatuan, apalagi sekarang bahan-bahan  pangan mulai dijadikan pengganti energy.  CPO, kedelai, biji bunga matahari, jagung, tebu, ketela, gandum, dan sebagainya kini di dunia mulai dialihkan menjadi bioenergy yang harganya terus melonjak. Kalau harganya terus melonjak, dan sebagian besar tanaman itu bisa ditanam di sini, mengapa justru mengalami kerawanan? Kalau pertanian Indonesia ingin maju, maka berikanlah keuntungan yang positif dan harga jual yang bagus bagi produk-produk pertanian Indonesia. Ini berarti, batasi impor dan jangan manjakan konsumen. Tetapi kita sepertinya ingin mendapatkan keduanya: Pertanian maju, tetapi harganya harus murah dan konsumen harus senang.


Surplus Tetapi Miskin


Ketahanan pangan menjadi masalah besar justru di negara-negara Asia, yang menurut Bank Dunia mengalami pengurangan kemiskinan yang signifikan. Menurut FAO (2009), sepanjang 2003-2005 saja, terdapat 541,9 juta penduduk Asia yang kekurangan gizi. Mengapa pertumbuhan ekonomi disertai kerawanan pangan? Ambil contoh saja di Thailand dan Vietnam yang mati-matian mengembangkan konsep ketahanan pangan sejak 30 tahun lalu. Di kedua negara ini sektor pertanian mengalami kemajuan yang sangat pesat. Berbeda dengan di Pulau Jawa yang lahan-lahan pertaniannya beralih ke properti dan industri, di kedua negara itu lahan-lahan pertanian justru diperluas dan irigasi diperbaiki. Keduanya surplus pangan dalam jumlah besar. Pada tingkatan makro, pertaniannya maju pesat. Namun pada tingkatan rumah tangga para petani tetap kesulitan hidup dengan layak dari sektor pertanian. Mereka lebih menjadi net buyer yang hanya bisa membiayai sepersepuluh konsumsinya dari hasil pertanian (Isvilonanda & Bumyasiri, 2009).

Demikianlah, pangan adalah masalah yang sangat serius, semakin kompleks dan butuh perhatian lintas sektoral. Tidak cukup diatasi oleh penghapusan bea masuk seperti yang dilakukan pemerintah terhadap impor kedelai. Pangan adalah masalah ketahanan yang rumit. Konsep pertahanan-keamanan yang dulu berarti tentara dan senjata, kini bergeser ke pangan dan energi.  Dan lihatlah betapa kita kedodoran mengelola ketahanan pangan yang menyangkut apa saja.  Tahun lalu cabai saja sampai menjadi agenda  pembicaraan yang hangat di istana. Lalu dalam perekonomian kita muncul masalah daging sapi, gula, garam, ikan kembung, beras, bahkan bawang merah.  Kini kedelai.  Sebanyak 150.000 anggota koperasi tahu tempe hari-hari ini tengah melakukan aksi mogok ketika harga kedelai melonjak dari Rp5000 menjadi Rp8000 per kilogram.  Meski semalam saya masih bisa menikmati tahu-tempe, ada rasa was-was, bukan khawatir kehilangan keduanya, melainkan khawatir anak-anak kita kelak akan kesulitan makan karena negeri ini tak memiliki konsep ketahanan pangan yang jelas.

Semakin Kerdil

Selain data yang sudah banyak dipaparkan para ahli, mari kita membaca insight berikut. Menurut kamus, insight adalah a clear or deep perception of a situation.  Atau bisa juga perasaan subjekif yang bisa dibaca dari sebuah situasi.  Namanya juga subjektif, jadi bisa terbaca, bisa juga tidak. Bisa terbaca A, bisa juga terbaca B.  Tetapi mari kita renungkan baik-baik, dan coba lebih gunakan insight  untuk melihat peluang yang mungkin timbul dari masalah besar ini, daripada memperbesar masalah itu sendiri. Kata orang bijak, bangsa-bangsa yang unggul adalah bangsa yang bisa melihat kesempatan dari setiap kesulitan. Dan pemenangnya adalah bangsa yang berani berselancar dalam gelombang ketidakpastian. 

Sedangkan bangsa yang selalu kalah adalah bangsa pengeluh yang hanya mau menjelajahi dunia yang pasti-pasti saja, lalu menyalahkan orang lain atas masalah yang ia buat.  Bangsa yang demikian akan selalu kalah, dan pemimpinnya gemar melempar kesalahan pada orang lain.  Ketimbang mengatakan, "saya yang salah", mereka akan selalu mengatakan, "itu bukan kesalahan saya." Sudah salah dan menyangkal, mereka pun mengulangi kesalahan yang sama bekali-kali. Saya kira tulisan ini tidak dimaksudkan menghadirkan keluhan atau sikap pecundang. 

Insight dari Dapur Rumah Makan Sunda tempat saya biasa menikmati makan enak menunjukkan, ada sesuatu yang tak beres pada pangan-pangan kita.  Berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang berupaya keras menghadirkan buah-buahan dan sayuran yang lebih besar dan lebih manis,  saya justru menemukan pangan lokal yang sebaliknya.  Kedelai impor semakin hari semakin bagus, sedangkan kedelai lokal semakin kuntet.  Petai padi yang dulu besar-besar, kini semakin mengecil.

Demikian juga dengan ikan pepes (ikan peda) yang dulu besar-besar, kini hanya daun pembungkusnya saja (daun pisang) yang besar. Rasanya semua ini berlaku pada hampir semua panganan kita. Kue pisang juga semakin kerdil dan pisangnya sepet. Sekalipun makannya di hotel berbintang lima. Bakso yang di jajakan keliling juga semakin kecil, dan rasa dagingnya semakin tak terdeteksi lidah. Kata pemilik restoran bukan hanya ukuran yang mengecil, keharumannya juga berkurang.  

Saya berbicara dengan para petambak ikan, mereka pun mengaku alam dan pakan sekarang sudah tidak bersahabat.  Air dari sungai sudah rusak, pencemaran luar biasa ganas karena pabrik celana jeans yang beroperasi tidak jauh dari tambak sering membuang limbah pewarna ke sungai. Ikan-ikan sulit menjadi besar. Di Waduk Jangari-Cirata saja, yang menjadi pusat  ikan mas Jawa Barat, sudah dikepung oleh sampah.  Lebih mengerikan lagi, harga pakan ikan pun sudah terlalu mencekik. Maka supaya bisa tetap untung panen pun dipercepat.  Itu pulalah yang tampaknya dilakukan petani (termasuk petai dan cabai), memanen hasil tanaman lebih cepat dari yang seharusnya agar bisa meraih untung. Apalagi akibatnya kalau bukan kuntet?

Sementara di dunia internasional, perubahan iklim bisa merubah peta suplai secara tiba-tiba. Kalau sudah begini, bangsa yang menang hanyalah bangsa yang proaktif. Artinya menanam jauh-jauh hari. Bukan seperti sekarang, ribut menanam kedelai pada ribuan hektar saat harganya sedang mahal. Lalu apa akibatnya dua-tiga bulan lagi saat panen beramai-ramai? Insight ini menunjukkan bahwa pertanian sudah tidak lagi menjadi sektor yang gurem.

Pertanian justru akan menjadi sektor yang mengalahkan sektor-sektor lainnya. Apa artinya mempunyai emas kalau tak bisa mendapatkan makan? Tetapi dalam masa transisi jelaslah suatu bangsa harus bisa menciptakan kondisi hasil investasi (Internal Rate of Return) pada sektor pertanian yang positif. Saat ini saja dunia perbankan cenderung alergi pada sektor pertanian. Ini berarti diperlukan perubahan kebijakan agar petani mau kembali menjadi petani. Syaratnya, ya sederhana saja, berikan IRR yang positif dan besar. 

Saya ingin menutup dengan insight lain dari para pedagang pangan. Bagi mereka kenaikan harga adalah wajar, tetapi khusus mulai 2012, kenaikan pangan yang biasa terjadi di bulan Ramadhan kini bergerak jauh lebih cepat 1-2 bulan sebelumnya. Lebih jauh lagi, bila sebelum 2005 dari 365 hari berdagang mereka kalah sebanyak 80 hari (karena cost lebih besar dari price), maka sejak 2005 ke sini, hari kekalahan terus membesar dan membesar. Tahun ini telah menjadi 150 hari kalah. Masih positif sih. Tetapi itu lampu kuning yang sebentar lagi menjadi merah. Artinya, ada masalah yang harus kita benahi bersama. Artinya food kita sedang tidak secure. Artinya selain banyak masalah, ya banyak peluang.

PETANI, SEBUAH PROFESI YANG (MUNGKIN) AKAN PUNAH (?) oleh djodjobedjodirodjo - Kompasiana. Sebuah Tulisan Arsip Lama dari LINE VOOM di Tahun 2017

Saya teringat dan ingin menuliskan kembali salah satu tulisan arsip lama yang saya tulis di Timeline LINE atau yang sekarang disebut LINE VOOM. By the way, pada saat menjadi mahasiswa sarjana dan berkuliah, saya lebih sering menggunakan aplikasi LINE dibandingkan aplikasi yang lain dan seringkali menulis di sana, termasuk menulis tentang topik pertanian. Tulisan mengenai petani ini saya ambil dari Kompasiana. Jadi mari kita simak bersama tulisan yang menurut saya menggelitik ini. Selamat menyimak!

Menjadi Petani? Menarik. Sulit. Jadi?
 

PETANI, SEBUAH PROFESI YANG (MUNGKIN) AKAN PUNAH (?)

djodjobedjodirodjo - Kompasiana

 


Lebay? Mungkin bisa dikatakan ya, tapi inilah pembuka yang hangat yang memantik kenyamanan kita untuk sedikit gundah memperhatikan nasib petani, dalam konteks di sini petani yang menggarap sawah. Penulis bertanya, petani itu apakah suatu pekerjaan yang enak? Kalau para pembaca menjawab “iya”, berarti Anda sudah siap untuk merasakan ‘enaknya’ menjadi petani. Proses ‘olah raga’ itu dimulai ketika petani menyiapkan lahan dengan membajak sawah, menabur bibit padi, menyemai, dan memanam satu per satu benih. Setelah tumbuh, petani harus menyiangi rumput yang tumbuh bersamaan dengan berkembangnya benih, kemudian ngrabuk (yang konon pupuk bersubsidi tetapi tetap saja harganya mahal) supaya tanaman subur dan menghasilkan banyak buliran padi. Belum lagi kalau hama menyerang, entah itu wereng lah, keong lah, burung emprit lah, tikus lah, ah sudahlah. Petani mau gak mau membutuhkan obat pestisida untuk menyemprot padinya supaya terbebas dari hama wereng, butuh membuat orang-orangan sawah dan setia menunggui padi dari ‘pencurian’ yang dilakukan oleh burung pipit. Dan juga, harus rajin gropyokan apabila ada hama tikus mengganas.

Ibarat sekolah, petani ini mengalami banyak sekali ‘pekerjaan rumah’, ‘les tambahan’, dan juga ‘tes’ supaya dapat lulus sampai tiba waktu panen. Pada waktu panen tiba pun, biasanya yang punya gawe akan dikerubungi buruh dadakan yang ikut “membantu” dan mau tidak mau petani mengeluarkan upah bawon. Sudah selesai? Ternyata belum. Petani harus menjamin gabah setelah dirontokkan harus kering benar supaya laku dan dihargai oleh para tengkulak. Berakhir? Belum juga. Petani harus menghadapi final examination, yaitu: harga gabah. Hal yang menyayat hati adalah apabila dengan pengorbanan yang demikian besar tersebut, harga gabah ternyata jatuh dan pada akhirnya malah tidak menutupi ongkos produksi. 

Dengan bercermin kondisi yang demikian, penulis kadang berpikir, jika generasi penerus lebih memilih untuk mencari profesi baru yang lebih menjanjikan, lalu, apa yang terjadi kemudian dengan kelangsungan hidup profesi petani? Pakdhe Ngatimin dan Paklik Sagiman adalah ‘sisa-sisa’ penduduk yang berkutat mempertahankan ‘tradisi’ di luar kebanyakan orang yang setelah lulus sekolah kemudian merantau ke kota. Mereka adalah ‘pewaris’ status agraris yang konon masih melekat identitasnya atas negeri ini. Mereka adalah generasi penerus pendekar pangan di saat orang-orang lain yang ‘lebih pintar dan terpelajar’, yang karena entah punya kesempatan atau memang karena tidak punya lahan lagi, akhirnya, meninggalkan lumpur dan aroma harum busuknya jerami untuk mendapatkan jalan hidup yang ‘lebih mapan’ dengan mencari pekerjaan ‘terhormat’ di tempat yang lebih modern sebagai seorang: Buruh! Dengan profesi itulah, mereka menikmati ‘kenyamanan hidup’ berupa penghasilan teratur yang mereka terima setiap bulan, tanpa harus terpanggang sengatan matahari dan guyuran hujan. 

Fenomena yang jamak terjadi ini sebenarnya tidak bisa lepas dari stigma yang melekat pada diri petani dan kondisi yang menyebabkan profesi ini sebagai sesuatu yang berhubungan erat dengan hal yang melelahkan, memprihatinkan, dan kurang menjanjikan. Walaupun tidak semua demikian, penulis yakin lebih banyak yang beranggapan seperti itu. Bahkan, kakek penulis pun ketika masih sugeng dengan berapi-api menceritakan perjuangannya ketika masih muda dalam membesarkan anak-anaknya, bercita-cita supaya mereka, anak-anaknya dan kelak cucu-cucunya (termasuk penulis), jangan sampai mengalami dan merasakan kesusahan hidup seperti dirinya melainkan menggapai hidup yang ‘lebih mulia’ dan menjadi ‘orang’. 

Dan benar saja, kegigihan kakek sebagai petani membiayai 7 anaknya meniti jalur sekolah sampai SLTA, sukses membawa mereka menjadi ‘orang’, dan satu dari antara mereka mungkin yang paling ‘rendah derajatnya’ adalah bapak penulis yang ‘hanya’ berprofesi sebagai seorang: Guru SD! Penulispun, karena ingin mencari jalan pintas, maka memilih untuk ikut pendidikan kedinasan yang mewajibkan bekerja pada institusi tertentu setelah lulus. Dan, jadilah kini penulis sebagai ‘buruh’ negara. Baik. 

Mari kita tinggalkan cerita kakek saya, berganti ke hal yang menggelisahkan. Kegalauan penulis dimulai tatkala menelisik fakta yang sangat memprihatinkan ketika: generasi penerus terus-menerus berbondong-bondong ke kota; sawah-sawah terkonversi menjadi pabrik dan perumahan ibarat sawah thukul omah, bukan padi atau tanaman hijau lainnya; adanya permainan harga pupuk dan harga gabah panen, dan juga faktor alam yang tidak bisa dihindari karena musim yang tidak jelas. Tidak bisa dipungkiri bahwa akibat industrialisasi, terjadi pergeseran pola kependudukan. Pabrik-pabrik dan perkantoran yang bermunculan luar biasa banyaknya karena ‘undangan’ investasi dari pemerintah seakan melambai-lambaikan tangannya dan memberi harapan yang lebih kepada generasi muda akan hidup yang lebih mapan. Di sisi lain, pertumbuhan jumlah penduduk juga membuat lahan garapan semakin sempit. Sejurus, mulailah generasi penerus ini mengubah arah hidupnya, dan tragisnya, berbondong-bondong meninggalkan sawah. Yang tidak ikut arus ini, tentu tersisa dengan tetap setia menggarap sawah, bagi yang punya; atau menggarap sawah orang lain dan bekerja serabutan di desa supaya asap dapur tetap terjaga. 

Berkurangnya generasi petani ini, entah di luar dugaan atau diperkirakan sebelumnya, ternyata sangat mengkhawatirkan. Hal ini tercermin dari hasil sensus yang dilakukan oleh BPS (Tempo, 2013) yang mengungkapkan data bahwa terjadi penurunan jumlah rumah tangga petani dari 31,17 juta rumah tangga pada tahun 2003 menjadi sekitar 26,13 juta rumah tangga pada tahun 2013. BPS menyimpulkan bahwa dalam kurun waktu 10 tahun, Indonesia kehilangan 5,07 juta rumah tangga petani. (Menghela nafas). Bagaimana dengan 10 tahun ke depan, apakah kita dapat memprediksinya, ataukah nanti petani itu hanyalah tinggal sebagai ‘makhluk langka’ yang perlu dilestarikan di suatu ‘cagar alam’? Patut diingat bahwa hal ini sangat berbanding terbalik dengan pertumbuhan jumlah penduduk Indonesia yang dari tahun 2003 sampai 2013 saja tumbuh dari sekitar 215 juta jiwa menjadi lebih dari 250 juta jiwa. 

Ironis memang, di tengah adanya peningkatan jumlah penduduk yang demikian besar dan membutuhkan ketersediaan pasokan pangan yang memadai, tidak diimbangi dengan pertumbuhan jumlah petani yang memproduksi pangan. Penulis, atau siapapun yang peduli akan nasib petani dan ketahanan pangan harus menahan napas dalam-dalam karena kondisi seperti ini cukup menyesakkan dada. 

Berbekal pengalaman hidup selama 2 tahun tinggal di negeri ‘Saudara Tua’, penulis dapat menggambarkan bahwa betapa enaknya menjadi petani di sana. Salah satu petani yang penulis kenal, Satoshi Wada, bahkan memiliki 2 mobil yang di sini pegawai pajak pun harus berpikir ulang untuk membeli Honda All New Jazz, dan satu lagi mobil mewah! Penulis hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Apa rahasianya? Ternyata profesi petani dan hasil pertanian sangat dilindungi oleh pemerintah Jepang. Harga beras dijamin tinggi oleh pemerintah, sehingga mereka memperoleh hasil yang memuaskan walaupun di beberapa daerah tertentu karena keterbatasan musim tanam, mereka hanya panen sekali dalam setahun. Para petani, yang rata-rata juga usia tua pun, menikmati profesi ini karena tidak melelahkan. Satu-dua hektar untuk menanam atau memanen hanya butuh hitungan kurang dari tiga jam, tidak lebih, dilakukan seorang diri atau dua orang. Pula, proses penanaman sampai panen pun dilakukan secara mekanik. Petani tinggal duduk manis di atas mesin, menyetting bibit padi muda, mesin dijalankan dan, tatdaaaa, benih akan ditanam secara otomatis. Panen pun demikian, petani tinggal naik traktor, menjalankan mesin, dan buliran padi pun akan tertampung di bagian traktor, dan jerami akan sendirinya tersisih dengan berhamburan keluar ditebas mesin. Menakjubkan sekali! 

Sementara itu, di pelosok desa, menanam padi bisa membutuhkan 5 – 10 orang. Dengan berjajar, mereka bergerak menanam satu per satu benih semaian dengan jarak teratur. Demikian pula waktu panen. Bermodalkan alat tradisional berupa sabit, para pekerja memotong padi, mengumpulkan menjadi berkas-berkas, lalu dirontokkan secara manual untuk memisahkan buliran padi dari jerami. Hal ini biasa dilakukan dari pagi hari sampai sore hari. Demikianlah proses ini berlangsung, dari sejak jaman Majapahit belum ada perubahan yang berarti. Menyedihkan sekali! Penulis berpikir, apakah tidak ada usaha pemerintah untuk mengubah situasi ini menjadi lebih baik? Penulis yakin ada, namun belumlah signifikan. Program yang sering terdengar adalah penemuan dan penggunaan secara massal bibit baru yang terkenal tahan hama dan menghasilkan bulir yang banyak. Tujuannya adalah tidak lain dan tidak bukan: untuk meningkatkan produksi. Namun, bagaimana dengan permasalahan sumber daya manusianya, apakah akan menutup mata apabila petani dalam kurun waktu satu periode mendatang akan habis? Atau bahkan kita juga latah dengan membuka kran impor tenaga petani dari negara-negara miskin untuk mengerjakan tanah kita? Ataukah terus-menerus mengimpor beras dengan dalih bahwa beras impor lebih murah dari pada beras lokal? Mengerikan sekali! 

Pemerintah harus lebih peka terhadap nasib petani. Patut dicamkan bahwa para petani ini adalah ‘makhluk’ yang paling sabar dalam menjalani profesinya. Walaupun gagal panen berkali-kali, pukulan harga gabah yang anjlok, lelahnya mengolah sawah, mereka tetap menjalani proses dan terus berkarya. Jika saja mereka seperti buruh manja yang banyak demo, mogok, dan menuntut, maka dapat dibayangkan apabila petani ini ‘ngambeg’. Stok pangan habis, harga makanan pokok mahal, devisa negara jebol, dan lain-lain, dan pada akhirnya, adalah suatu keniscayaan kalau bangsa ini bakal runtuh, hanya karena tidak punya ketahanan produksi pangan. Ah, semoga tidak, karena ini adalah kegalauan hati penulis.

Saturday, July 29, 2023

Belajar Trading dan Investasi Saham IDX Melalui Analisa Teknikal dan Analisa Fundamental

 

Salah satu skill dan keahlian yang terus saya ingin pelajari dan kembangkan adalah kemampuan untuk trading dan investasi saham IDX atau di Bursa Efek Indonesia (BEI), melalui Sekuritas tentunya. 

Pada tahun 2018 saya membuka akun dan rekening saham di Mirae Asset Sekuritas melalui Sekolah Pasar Modal (SPM) Syariah di Kantor Perwakilan BEI Jawa Barat. 

Semenjak membuka akun dan rekening saham, saya mengikuti pelatihan atau edukasi dari Mirae Asset tentang analisa teknikal dan analisa fundamental untuk menganalisis suatu saham dan perusahaan. Salah satu yang dipelajari adalah Simple Support and Resistance, Simple Moving Average, dan berbagai rasio keuangan untuk melihat kesehatan dan profitabilitas suatu perusahaan.

Materi di bawah ini adalah materi basic tentang analisa teknikal dan fundamental dari Mirae Asset Sekuritas yang sangat bisa untuk dipelajari dan dikembangkan bagi pemula sebagai bekal menjadi trader dan investor saham.

Berikut materinya:

 

 
 

 

 

Hari ini, Sabtu, 29 Juli 2023, saya mengikuti kembali webinar tentang saham yaitu Multiple Trading Strategy (MTS) dari Galeri Saham dengan Pemateri yaitu Pak Rio Rizaldi.

 

Berikut adalah materinya:

 

 

 

Semoga saya bisa terus belajar mengenai trading dan investasi saham dan kalau ada rezekinya semoga bisa membeli dan berinvestasi lagi di saham Blue Chip.

By the way, bulan ini saya sell saham ANTM dengan take profit lebih dari 250 % setelah di hold selama 5 tahun. Alasannya karena sedang butuh uang lebih. Haha

Yuk ah semangat berinvestasi lagi. Semoga ada rezekinya :)

Friday, July 28, 2023

Yuk Belajar Bahasa Daring (YB2D) English from Language Center of UNJ. My First, Second, and Third Meetings.

 

I have been joining Yuk Belajar Bahasa Daring (YB2D) English from Language Center of UNJ (LCU) since June 2023. It is a free English Course that is held once in two weeks. I joined this event after I took TOEFL ITP Digital at LCU. Here are the recap and learning materials of my first, second, and third meetings. Enjoy!

 

June 21st, 2023. First Meeting.


I was really glad to join "Yuk Belajar Bahasa Daring - English" from Language Center of UNJ @uptbahasaunj

I knew this event because I followed LCU's IG account after I had finished my TOEFL ITP Digital Test on June 14th.
 

On that day, we watched movie clips from Puss and Boots and we discussed about them.

What I learned that day were the meaning of words was not always based on the real meaning, but we must see the context in the conversation, I also learned about the rules of sound "d" after word "at" when the word was followed by vowel sounds.

 

July, 13th 2023. Second Meeting.


 

It was my second meeting on Yuk Belajar Bahasa Daring (YB2D) English from Language Center of UNJ @uptbahasaunj and we discussed about subordinating conjunction vs coordinating conjunction. The pdf above is the learning materials.

I really enjoyed today's learning with Mr Pieter and all of the participants. I could relearn about these basic but important materials :)

 

July 28th, 2023. Third Meeting.

 

I was really glad to attend my third meeting on Yuk Belajar Bahasa Daring (YB2D) English Language Center of UNJ @uptbahasaunj

I met again with Mr. Pieter as my tutor. We discussed about expressing opinion. The materials can be seen on the pdf above.

Happy learning everyone :)

Thursday, July 27, 2023

"How to Publish Your Research in Well-Known Journals" Seminar from Professor Hiroshi Ezura, University of Tsukuba, Japan






Today, July 27th, 2023, I just attended "How to Publish Your Research in Well-Known Journals" Seminar from Professor Hiroshi Ezura, University of Tsukuba, Japan. The seminar was held by World Class Professor 2023 Program, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran @universitaspadjadjaran @ekper_unpad @ilmupertanian.s3.unpad in Student Center Faperta UNPAD.

As a beginner researcher, this seminar is eye-opening that doing and writing Excellent Original Research and Review Articles are very important to academicians.

I will try to learn more and increase my capabilities to do research and write Original Research Paper and Review Articles at Agricultural Economics Master's Program, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran.

Wish me luck!

Tuesday, July 18, 2023

GENIE•chat, Chat dan Pembelajaran Interaktif yang Didukung AI dengan PDF dan Dokumen yang Anda Upload

Artificial Intelligence (AI) berbentuk chatbot menjadi salah satu tools yang akan terus berkembang dan dibutuhkan ke depan. Banyak sekali chatbot AI yang bisa menjadi opsi untuk melakukan pembelajaran dan pendalaman berbagai materi, baik untuk kepentingan akademis, bisnis, maupun hanya sekadar mencari pengetahuan baru. Sebut saja chatbot ChatGPT dari OpenAI yang sempat menghebohkan jagat maya tanah air beberapa waktu kemarin. 

Saat ini terdapat salah satu Chatbot AI yang memiliki fitur unik dan lebih lengkap yang patut untuk dicoba, yaitu GENIE•chat atau bisa dikunjungi di link:  https://mygenie.chat/id 

Yang membedakan antara GENIE•chat dengan Chatbot AI lain adalah kita bisa mengupload file referensi berupa PDF atau file berisi teks lainnya yang menjadi sumber rujukan dari pembelajaran dan pencarian materi yang kita lakukan melalui chatbot AI. File PDF tersebut akan tergabung dalam satu folder library sehingga kita bisa merujuk pada beberapa file PDF untuk satu topik yang sedang kita cari.

Tidak hanya bersumber dari PDF yang kita upload, selayaknya chatbot AI yang lain, GENIE•chat juga bisa memberikan jawaban dari topik yang kita cari bersumber dari internet dengan validasi tinggi karena menggunakan versi GPT-4. 

Penggunaan GENIE•chat ini sudah saya lakukan dan menghasilkan jawaban yang memuaskan. Kelebihan lain dari GENIE•chat yang lain adalah di setiap jawaban yang dihasilkan oleh chatbot, diberikan suggestion question yang berkaitan dengan pertanyaan kita sebelumnya atau isi dari file PDF yang kita upload, sehingga tentu hal ini akan memperluas pengetahuan dan memudahkan kita dalam memahami dan menggali materi yang sedang kita cari.

Untuk menggunakan GENIE•chat ini, saya hanya perlu sign up dan log in dengan Google Account, lalu mengupload  file PDF, dalam hal ini saya mengupload proposal penelitian saya untuk program magister atau S2 dan keperluan mendaftar beasiswa. 

Saya bisa menggali kembali isi dari dokumen saya dan menanyakan hal yang saya belum paham benar dari metode penelitian pada file tersebut. Hal yang saya tanyakan yaitu mengenai teknik triangulasi. 

Dan gambar di bawah ini adalah jawaban GENIE•chat dari pertanyaan yang saya ajukan, sangat mendalam dan tepat sasaran. Saya mengajukan pertanyaan tentang apa yang dimaksud teknik triangulasi yang merupakan salah satu teknik analisis yang saya pilih dalam penelitian kualitatif yang akan saya lakukan.


 
Hal ini tentu akan sangat membantu siswa, mahasiswa, pengajar, kalangan akademik, dan peneliti untuk mencari referensi dan pertanyaan yang masih mengganjal dan belum terjawab.

Dilansir dari website GENIE•chat, GENIE•chat akan sangat bermanfaat bagi pelajar dan mahasiswa serta pengajar. GENIE•chat adalah alat belajar yang akan sangat membantu dalam pemahaman buku teks, catatan, dan slide sehingga akan menjadi lebih mudah. Tidak perlu lagi membuang waktu untuk makalah dan artikel akademis yang membingungkan. Dengan GENIE•chat, kita akan unggul secara akademis dan bisa belajar dengan lebih cerdas.

Untuk kalangan pebisnis profesional GENIE•chat juga akan sangat bermanfaat. GENIE•chat dapat menyederhanakan proses peninjauan dokumen, seperti proposal atau dokumen hukum. Kita bisa mendapatkan wawasan tepat dalam waktu singkat dan bisa menyimpan data dengan aman di cloud. GENIE•chat bisa diakses kapan pun kita membutuhkannya dan menghapus data kapan pun kita mau. 

Untuk para Knowledge Seekers, kita bisa ajukan pertanyaan dalam bahasa apa pun dan mendapatkan jawaban yang memuaskan. Kita bisa memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman dengan Perpustakaan pengetahuan pribadi GENIE•chat. Ini adalah alat untuk semua pertanyaan dan keingintahuan Anda.

Jadi tunggu apa lagi, ayo gunakan GENIE•chat! https://mygenie.chat/id

Friday, July 14, 2023

Riset: Mahasiswa Pertanian Tak Ingin Jadi Petani, Apa Sebabnya?

Riset: Mahasiswa Pertanian Tak Ingin Jadi Petani, Apa Sebabnya?
 
 

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata usia petani meningkat dari 39,9 tahun pada 2000 menjadi 45,7 tahun pada 2020. Ini menunjukkan tren penuaan tenaga kerja sektor pertanian dan rendahnya minat anak muda menjadi petani.

Sayangnya, hasil riset saya pada 577 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa lulusan pertanian memiliki minat yang rendah untuk bergelut di sektor ini karena kurangnya pengetahuan mereka, rendahnya kepercayaan diri, stigma, hingga ketiadaan dukungan dari orang tua dan pendidik.

Keinginan mahasiswa IPB menjadi petani cukup rendah, yaitu sebesar rata-rata 5,65 dari 10, jauh di bawah rata-rata keinginan mereka untuk membuka bisnis di sektor lain yaitu sebesar 8,29.

Hal ini bisa menjadi ancaman karena menurut penelitian beberapa pakar, petani tua cenderung kurang produktif dan efisien serta enggan untuk mengadopsi teknologi terbaru. Indikasi ancaman ini dibuktikan dengan 4,79% penduduk Indonesia – atau setara dengan 13 juta penduduk – mengalami kerawanan pangan di tahun 2021, yang salah satunya dapat disebabkan kekurangan produksi pangan dalam negeri.

Kekurangan produksi pangan juga ditunjukkan dengan rata-rata peningkatan impor pangan sebesar 5,98% tiap tahunnya. Padahal, dengan adanya krisis global saat ini, termasuk pandemi COVID-19 dan Perang Rusia-Ukraina yang mengguncang perdagangan lintas negara, para ahli mengakui perlunya mencapai swasembada dan ketahanan rantai pasokan.

Menghadapi situasi ini, Indonesia butuh regenerasi di sektor pertanian dan lebih banyak petani muda.

Mengapa generasi muda enggan menjadi petani?

 
Keinginan menjadi petani dan membuka bisnis di non-pertanian.

Saya menemukan beberapa faktor yang signifikan mempengaruhi keinginan mahasiswa menjadi petani.

Keakraban atau pengetahuan mahasiswa terhadap aktivitas bertani berpengaruh positif terhadap keinginan mereka menjadi petani. Rata-rata tingkat keakraban mahasiswa IPB terhadap aktivitas bertani hanya sebesar 5,83 dari 10.

Hasil tersebut mengindikasikan bahwa sekalipun mereka adalah mahasiswa di universitas pertanian, bukan berarti mereka mendapatkan pengetahuan yang cukup untuk aktivitas bertani dari kegiatan belajar di kelas. Aktivitas ini termasuk produksi pertanian di lapangan, baik dalam bercocok tanam, manajemen tenaga kerja, maupun penjualan hasil panen. Sulit bagi mereka membayangkan menjadi petani jika mereka merasa asing dengan aktivitas bertani itu sendiri.

Saya juga menemukan bahwa kepercayaan diri mahasiswa untuk mengambil risiko menjadi faktor yang signifikan di balik keinginan menjadi petani.

Hasil survei yang saya lakukan menunjukkan bahwa rata-rata skala kesediaan mahasiswa mengambil keputusan berisiko apabila mereka menjadi petani hanya berkisar di angka 5,42.

Memang, penelitian menyebutkan bahwa pekerjaan petani memiliki risiko yang lebih besar daripada pekerjaan lain. Petani harus menghadapi beragam tantangan seperti kegagalan panen karena iklim atau hama, harga yang tidak stabil di pasar, bunga dari pembayaran pinjaman, dan kecelakaan kerja dan kesehatan. Tanpa keyakinan yang tinggi untuk mengambil risiko, berat bagi generasi muda untuk memiliki aspirasi menjadi petani.

Sementara itu, dukungan dari orang tua memiliki pengaruh yang positif terhadap keinginan mahasiswa menjadi petani. Terdapat sekitar 47.5% mahasiswa yang tidak menerima dukungan dari orang tua untuk menjadi petani.

Mahasiswa yang menerima dukungan yang rendah dari orang tua kemungkinan terkait dengan faktor lain yang saya temukan berpengaruh terhadap keinginan mahasiswa menjadi petani, yaitu pendidikan ayah. Temuan saya menunjukkan bahwa semakin tinggi pendidikan ayah, semakin rendah keinginan anaknya untuk menjadi petani. Hal ini sejalan dengan data yang saya temukan bahwa 48% mahasiswa yang ayahnya berpendidikan SMA dan universitas tidak menerima dukungan dari orang tua untuk menjadi petani.

Saya juga menghubungkan penemuan tersebut dengan faktor lain yang signifikan dalam mempengaruhi keinginan mahasiswa menjadi petani, yaitu pandangan mahasiswa terhadap pekerjaan petani adalah untuk orang yang berpendidikan rendah. Bisa jadi, karena responden adalah mahasiswa sedang menempuh pendidikan tinggi di universitas, mereka (begitu pula orang tuanya) tidak bisa membayangkan untuk menjalani profesi yang lekat dengan stigma pendidikan rendah.

Dukungan untuk tidak menjadi petani ternyata dapat diteruskan antargenerasi. Saya menjumpai mahasiswa yang keinginannya rendah juga akan tidak mendukung anak mereka di masa depan jika ingin menjadi petani.

Terakhir, saat ditanya hal apa yang dapat meningkatkan keinginan mahasiswa untuk menjadi petani, kebanyakan menekankan pentingnya akses terhadap modal dan aset. Hal ini mengindikasikan juga bahwa rendahnya keinginan mereka menjadi petani adalah karena tidak memiliki kecukupan sumber daya untuk memulai usaha bertani.

Lalu, bagaimana meningkatkan keinginan mereka menjadi petani?

Untuk meningkatkan pengetahuan dan keakraban mahasiswa terhadap aktivitas bertani, universitas dapat bekerja sama dengan petani individu maupun perusahaan untuk menawarkan program magang kepada mahasiswa. Selain membuat mahasiswa lebih akrab dengan aktivitas bertani, ini juga membuat mahasiswa memiliki sosok mentor untuk ke depannya.

Mentor juga dapat mengenalkan mahasiswa tentang keputusan berisiko apa saja yang harus diambil sebagai petani, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri mereka untuk masuk ke sektor pertanian.

Kita juga perlu mengubah persepsi mengenai pekerjaan petani, khususnya bahwa pekerjaan ini hanya untuk mereka yang berpendidikan rendah. Persepsi tersebut harus direm supaya tidak berlanjut ke generasi berikutnya dan membuat semakin sedikit yang ingin menjadi petani.

Pemerintah bisa mulai mempromosikan kampanye bahwa penting bagi Indonesia untuk memiliki petani muda yang berpendidikan tinggi demi mendukung produksi pangan lebih produktif, efisien, dan inovatif. Upaya mengubah persepsi ini perlu mendapat dukungan penuh dari orang tua dan pendidik.

Sekitar 70% mahasiswa yang disurvei merasa mendapat dukungan dari dosen untuk menjadi petani. Dukungan tersebut secara signifikan berdampak positif terhadap keinginan mahasiswa menjadi petani. Ini perlu ditingkatkan lagi agar keinginan mahasiswa menjadi petani semakin tinggi dan dirasakan oleh semua mahasiswa.

Terakhir, pemerintah perlu meningkatkan program bantuan modal dan aset bagi mahasiswa yang ingin menjadi petani sekaligus secara gencar mempromosikan program tersebut. Sebab, peningkatan keinginan mahasiswa menjadi petani sangat diperlukan untuk menjamin keamanan pangan serta tercapainya swasembada dan ketahanan rantai pasokan.The Conversation

Lukas Bonar Nainggolan, Researcher, Lembaga Demografi FEB UI

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.