Saturday, April 29, 2023

"Memercayai yang Mustahil" dalam Buku "Seperti Sungai yang Mengalir: Buah Pikiran dan Renungan" karya Paulo Coelho halaman 290-292

 




Membaca ulang bagian dari buku "Seperti Sungai yang Mengalir: Buah Pikiran dan Renungan" karya Paulo Coelho. Mendalami kumpulan tulisan dan artikel sederhana yang memiliki kedalaman makna :)

 

Memercayai yang Mustahil

halaman 290-292.

William Blake berkata, "Apa yang sekarang telah terbukti, dulunya hanya imajinasi." Karena inilah kita sekarang mempunyai pesawat terbang, penerbangan ke luar angkasa, dan komputer yang saya gunakan untuk menulis tulisan ini. Dalam mahakarya Lewis Carroll, Alice Through the Looking Glass, ada percakapan berikut antara Alice dan Ratu Putih yang baru saja mengucapkan sesuatu yang sungguh tak masuk akal.

"Aku tidak percaya itu!" kata Alice.

"Masa?" sang Ratu berkata dengan penuh iba. "Cobalah lagi: tarik napas dalam-dalam, dan pejamkan matamu."

Alice tertawa. "Buat apa," katanya: "orang-orang tidak bisa percaya hal-hal yang mustahil."

"Wah, kau pasti belum banyak berlatih," kata sang Ratu. "Waktu aku seumurmu, aku selalu berlatih setengah jam sehari. Kadang-kadang, sebelum sarapan aku sudah bisa percaya sebanyak enam hal yang mustahil."

Hidup ini tak putus-putus mengatakan pada kita, "Percayalah!" Percayalah bahwa mukjizat bisa terjadi kapan saja; ini penting untuk kebahagiaan kita, juga untuk perlindungan kita, serta untuk mengesahkan eksistensi kita. Di dunia zaman sekarang, banyak orang menganggap mustahil untuk menghapuskan kemiskinan, untuk menciptakan masyarakat yang adil, dan untuk mengurangi konflik keagamaan yang marak saja setiap harinya.

Kebanyakan orang tidak mau berjuang , karena berbagai alasan: konformisme, umur, merasa konyol, merasa tidak berdaya. Kita melihat banyak sesama kita diperlakukan secara tidak adil dan kita berdiam diri saja. "Aku tidak mau terlibat dalam pertempuran-pertempuran yang tidak perlu," begitulah alasan kita.

Ini sikap seorang pengecut. Siapa pun yang menapaki jalan spiritual, membawa serta hukum kepantasan yang mesti dipatuhi. Tuhan selalu mendengar suara yang berseru melawan perbuatan yang tidak benar.

Meski demikian, kadang-kadang kita mendengar ucapan berikut ini, "Seumur hidupku aku percaya pada mimpi-mimpi, dan sudah sering aku berusaha sekuat tenaga untuk melawan ketidakadilan, tapi pada akhirnya aku selalu dikecewakan."

Tetapi ksatria cahaya mengetahui bahwa ada pertempuran-pertempuran yang layak dijalani, meski mustahil dimenangkan. Itu sebabnya dia tidak takut kecewa, sebab dia sungguh tahu kekuatan pedangnya serta keteguhan cintanya. Dengan gagah berani dia melawan mereka yang tidak mampu mengambil keputusan dan selalu berusaha mengalihkan tanggung jawab atas hal-hal buruk di dunia ini kepada orang lain.

Bilamana dia tidak berjuang melawan yang salah -meski kelihatannya ini di luar kekuatannya- dia tidak akan pernah menemukan jalan yang benar.

Arash Hejazi pernah mengirimkan pesan berikut ini kepada saya: "Hari ini aku terjebak dalam hujan lebat sewaktu sedang berjalan kaki. Untunglah aku punya payung dan jas hujan, tetapi dua-duanya ada di dalam bagasi mobilku yang diparkir agak jauh. Waktu aku lari untuk mengambilnya, aku memikirkan pertanda aneh dari Tuhan ini: kita selalu mempunyai sarana-sarana yang dibutuhkan untuk menghadapi badai-badai kehidupan, tetapi seringnya sarana-sarana itu terkunci di kedalaman-kedalaman hati kita, dan banyak waktu kita terbuang sia-sia untuk mencari-carinya. Sewaktu kita temukan, kita sudah keburu dikalahkan oleh lawan."

Karena nya, marilah kita selalu mempersiapkan diri; kalau tidak, entah kita akan kehilangan kesempatan, atau kalah dalam pertempuran.

Friday, April 28, 2023

Buku "Dunia Anna" Sebuah Novel Filsafat Semesta Karya Jostein Gaarder

 


Membaca ulang buku "Dunia Anna" karya Jostein Gaarder.

Novel Filsafat Semesta ini mengingatkan kembali mengenai apa arti keberlanjutan lingkungan, keanekaragaman hayati, dan makna eksistensi manusia untuk generasi penerus di masa mendatang. Membuat saya berpikir, sudah cukup bijak kah kita menggunakan energi fosil dan berbagai pemborosan sumber daya alam termasuk perusakan alam didalam nya?

Anna, Nova, Jonas, Ester, dan Benjamin berbagi tentang hal itu di buku ini. 

Selamat membaca :)

Monday, April 17, 2023

#22HBB Day 21 and Day 22 Buku "FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer" karya Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag.

 

Day 21 #22HBB Vol. 2 (11 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer - Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. – hlm. 90-106 / 296

Insight/rangkuman/catatan:

HIERARKI WUJUD SECARA EMANASI - Pemikiran Al-Farabi (870-950 M)

Pertama, konsep metafisika Al-Farabi tidak hanya menunjuk soal wujud-wujud non-materi, sesuatu yang gaib atau sesuatu yang melampaui fisika (mâ warâ’a thabî`ah), seperti yang ada dalam teologi Islam umumnya, tetapi mencakup juga persoalan psikis, konsep-konsep yang ada dalam pikiran, bahkan epistemologis.

Kedua, dari sisi ontologis, pemikiran emanasi Al-Farabi tampak selaras dan konsisten, di mana tiap-tiap bagiannya saling terkait. Dimulai dari yang Esa, Sebab Pertama, secara hierarkis turun menuju ke sepuluh intelek yang kemudian melahirkan langit dan bumi yang merupakan wujud empiris dan plural. Artinya, di sini bisa diselesaikan perbedaan dua kutub yang saling berseberangan sehingga bisa dijelaskan keterkaitan antara Tuhan yang Esa dan wujud empiris yang plural, antara yang substantif dan aksiden, antara yang tidak bergerak dan yang berubah, yang merupakan persoalan pelik fi lsafat saat itu. Namun, harus pula disadari bahwa dengan konsep emanasi tersebut, Al-Farabi dapat jatuh pada kesimpulan bahwa Tuhan tidak mengetahui sesuatu yang partikular atau teperinci seperti pernah dituduhkan Al-Ghazali.

Ketiga, konsep Al-Farabi bahwa eksistensi manusia di bumi berada di antara wujud-wujud materi yang rendah dan wujud-wujud metafi sik yang tinggi, akan bisa menggiring pada pemahaman bahwa manusia tidak akan bisa mencapai derajat paling utama di antara makhluk ciptaan. Jika asumsi ini benar, ia bisa berseberangan dengan konsep lain, khususnya soal kenabian dan konsep manusia sempurna (insân al-kâmil) yang sering diungkap oleh kaum sufi s, yakni sosok manusia unggul yang mencapai derajat tertinggi melampaui segala ciptaan sehingga eksistensi dan tindakannya merupakan ‘bayangan’ Tuhan di bumi.

Keempat, dalam konsep emanasi Al-Farabi yang hanya sampai tingkat ke-11, mengapa hanya 11? Apakah ini murni hasil renungan filosofisnya atau karena pengaruh doktrin imâmah dalam teologi Syiah? Richard Netton menduga Al-Farabi termasuk seorang pemikir dari kalangan Syiah,  karena Bani Hamdan (890–1004 M) penguasa Aleppo dan Mosul yang memberi fasilitas dan mendukung kegiatan ilmiah Al-Farabi adalah pengikut mazhab Syiah. Juga, pemikiran dan elite politik Syiah, sebenarnya, masih mengontrol secara efektif jalannya roda pemerintahan pusat di Baghdad sampai menjelang kematian Al-Farabi.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

Day 22 #22HBB Vol. 2 (12 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer - Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. – hlm. 107-120 / 296

Insight/rangkuman/catatan:

HIERARKI NILAI REALITAS - Pemikiran Al-Ghazali (1058-1111 M)

Pertama, pembagian tentang bentuk dan tingkat kualitas alam oleh Al-Ghazali menjadi dua bagian, yakni alam atas dan bawah, yang masing-masing termanifestasikan oleh alam malakût yang bersih dan mulia dan alam dunia yang kasat mata dan rendah, sesungguhnya, bukan ide baru. Para filsuf sebelumnya juga telah menyatakan hal itu, meski dengan format yang berbeda. Namun, yang berbeda dari Al-Ghazali, tingkatan ini tidak tersusun secara emanasi sebagaimana pemikiran filsafat, tetapi berdasarkan teori imkân yang biasa dikaji dalam teologi, yaitu bahwa alam dicipta dari sesuatu yang tiada (creatio ex nihilo).

Kedua, pemikiran Al-Ghazali tentang dua kutub realitas, partikular dan universal, yang keduanya sama-sama merupakan substansi yang mempunyai bangunan tersendiri tapi saling berkaitan, adalah gagasan yang genius. Dengan pemikiran ini, doktrin kaum teolog bahwa semesta diciptakan dari sesuatu yang tiada, creatio ex nihilo, bisa dijelaskan sehingga perbedaan antara doktrin teologi dan filsafat bisa diselesaikan. Namun, gagasan bukan tidak bisa dipersoalkan. Pada saatnya, konsep Al-Ghazali ini bisa dianggap syirik, ketika dihadapkan pada konsep kesatuan wujud Ibn Arabi (1165-1240 M).

Ketiga, pembagian eksistensi wujud, (1) aktual yang eksistensinya tidak hanya ada dalam mental, konsep, dan pikiran, tetapi konkret, nyata dalam wujud realitas dan (2) wujud potensial yang hanya ada dalam konsep, mental atau pikiran dan masih dalam posisi imkân, pada gilirannya akan bisa mengarah pada kesimpulan bahwa aksiden lebih penting dibanding substansi, karena aksiden itulah yang menentukan eksistensi sesuatu. Ini tidak berbeda dengan konsep Al-Farabi. Di sisi lain, dengan konsep wujud potensial-aktual tersebut berarti pula bahwa segala yang konkret telah ada ‘gambarannya’ dalam pikiran, termasuk wujud semesta telah ada gambarannya dalam benak Tuhan sebagai wujud potensial. Al-Ghazali mengakui hal ini dan menamakan dengan nasyiyah alazaliyah (kehendak azali). Ini berarti tidak berbeda dengan konsep ‘keqadiman alam’ dari filsafat Al-Farabi bahwa semesta ini telah ada wujudnya dalam pikiran Tuhan secara azali bersama keazaliaan-Nya.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

#22HBB Day 19 and Day 20 Buku "FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer" karya Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag.


 

Day 19 #22HBB Vol. 2 (9 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer - Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. – hlm. 53-68 / 296

Insight/rangkuman/catatan:

REKONSTRUKSI TEOLOGI ISLAM (ILM AL-KALAM) - Pemikiran Hassan Hanafi

Rekonstruksi teologi yang dilakukan Hassan Hanafi adalah mengubah term atau pemahaman teologi yang awalnya bersifat teosentris,berbicara tentang Tuhan dan melangit, diubah dan diturunkan menjadi teologi yang mendiskusikan tentang persoalan manusia,antroposentris,dan membumi.Berkaitan dengan gagasan rekonstruksi teologi tersebut,ada beberapa hal yang perlu disampaikan.

Pertama, dari sisi metodologis, pemikiran Hassan Hanafi tampak memiliki kesamaan–jika tidak dikatakan dipengaruhi oleh—dengan pemikiran Marx (1818–1883 M) dan Husserl (1859–1938 M). Pengaruh atau kesamaan tersebut tampak ketika Hanafi meletakkan persoalan Arab (Islam) dalam konteksnya sendiri, lepas pengaruh Barat.Pernyataannya bahwa kemajuan Islam tidak bisa dilakukan dengan cara mengadopsi Barat (westernisasi) tetapi harus didasarkan atas khazanah pemikiran Islam sendiri mirip dengan pemikiran fenomenologi Husserl.Adapun kesamaannya dengan Marxisme terlihat ketika Hanafi menempatkan persoalan sosial praktis sebagai dasar bagi pemikiran teologinya, yaitu bahwa teologi dimulai dari titik praktis pembebasan rakyat tertindas. Slogan-slogan yang dipergunakan, antara lain, pembebasan rakyat tertindas dari penindasan penguasa, persamaan derajat Muslim di hadapan Barat dan sejenisnya adalah jargon-jargon Marxisme. Kesamaannya dengan metode dialektika Marxis juga terlihat ketika Hanafi menjelaskan perkembangan pemikiran Islam dan usaha yang dilakukan ketika merekonstruksi pemikiran teologisnya dengan menghadapkan teologi dengan filsafat Barat untuk kemudian mensintetiskannya. Bedanya, jika dalam pemikiran Marxis dikatakan bahwa pergerakan dan pembebasan manusia tertindas tersebut semata-mata didorong oleh kekuatan materi dan duniawi, dalam Hanafi diberi ruh yang tidak sekadar materialistik. Ada pranata-pranata yang bersifat religius atau keruhanian yang menggerakkan sebuah perjuangan Muslim. 

Juga, jika dalam perjuangan ala Marxis bisa dengan menghalalkan segala cara, rekonstruksi teologi Hanafi memakai prinsip kesejahteraan, bahwa perjuangan mesti memerhatikan kebaikan umum, bukan brutal, hingga pemikiran Hanafi bisa disebut marxisme tetapi tidak marxis, Barat tetapi tidak sekuler. Artinya, di sini ada metode-metode orisinal yang dikembangkan oleh Hanafi sendiri.


Kedua, dari sisi gagasan. Jika ditelusuri dari kritik dan gagasan para tokoh sebelumnya, apa yang disampaikan Hanafi dari proyek rekonstruksi teologi ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru dalam makna yang sebenarnya. Pernyataannya bahwa zat dan sifat Tuhan adalah deskripsi tentang manusia ideal telah disampaikan kaum Muktazilah dan kaum sufi , konsepnya tentang tauhid yang “membumi” juga telah disampaikan Murtadha Muthahhari (1920–1979 M). Kelebihan Hanafi adalah bahwa ia mampu mengemas konsep-konsepnya tersebut secara lebih utuh, jelas, dan up to date sehingga terasa baru. Di sinilah orisinalitas pemikiran Hanafi dalam proyek rekonstruksi teologisnya. Ketiga, lepas apakah pemikiran besar Hanafi bisa direalisasikan atau tidak seperti diragukan Boullata, jelas gagasan Hanafi adalah langkah berani dan maju dalam upaya untuk meningkatkan kualitas umat Islam dalam mengejar ketertinggalannya di hadapan Barat. Hanya saja, rekonstruksi yang dilakukan dengan cara mengubah term-term teologi yang bersifat spiritual-religius menjadi sekadar material-duniawi akan bisa menggiring pada pemahaman agama menjadi hanya sebagai agenda sosial, praktis, dan fungsional, lepas dari muatan-muatan spiritual dan transenden.

Selanjutnya, mencemati gagasan Hanafi, ada ada cacatan yang perlu disampaikan. Pertama, pemikiran Hanafi masih diwarnai aroma romantisme, meski dalam kadar yang relatif kecil, yakni gagasan rekonstruksi yang berbasis pada rasionalitas Muktazilah. Keberpihakan Hanafi pada rasionalitas Muktazilah menyebabkan ia mengabaikan cacat yang ada pada Muktazilah, yaitu bahwa mereka pernah melakukan intrik politik dan ideologis (mihnah). Kedua, kritik Hanafi bahwa teologi Asy’ariyah adalah penyebab kemunduran Islam terasa terlalu menyederhakan masalah di samping tidak didasarkan investigasi historis yang memadai dan konkret. Kenyataannya, seperti ditulis Shimogaki, Asy’ariyah telah berjasa dalam menemukan keharmonisan mistik antara ukhrawi dan duniawi, meski tidak bisa dimungkiri bahwa kebanyakan masyarakat Muslim yang Asy’ariyah sangat terbelakang dibanding Barat

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

Day 20 #22HBB Vol. 2 (10 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer - Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. – hlm. 69-89 / 296

Insight/rangkuman/catatan:

AL-FALSAFAH AL-ÛLÂ - Pemikiran Al-Kindi (801 873 M)

Al-Falsafah al-Ûlâ adalah judul buku filsafat yang ditulis dan dipersembahkan Al- Kindi untuk khalifah Al-Mu`tashim (833–842 M) dari dinasti Bani Abbas (750–1258 M); sekaligus juga istilah untuk pemikiran metafi sikanya yang didasarkan atas konsep-konsep fi lsafat Aristoteles (384–322 SM).1 Pemikiran metafi ika Al-Kindi, menurut George N. Atiyeh, diinspirasikan dari gagasan Aristoteles tentang Kebenaran Pertama, tidak didasarkan atas ide-ide Plotinus (204–270 M) sebagaimana kebanyakan fi lsuf Muslim sesudahnya. Kebenaran pertama adalah penggerak pertama yang merupakan sebab dari semua kebenaran. Karena itu, Al-Kindi menggambarkan metafisika sebagai pengetahuan yang paling mulia, karena subjek kajiannya adalah sesuatu yang paling mulia dari semua realitas. Berdasarkan hal ini, Al-Kindi kemudian mendefi nisikan metafisika sebagai pengetahuan tentang hal-hal yang Ilahiah—yang dalam konsep Aristoteles disebut sebagai penggerak yang tidak bergerak. Namun, cakupan kajiannya tidak meliputi segala yang wujud sebagai wujud (being qua being) sebagaimana dalam pemikiran Aristoteles, tetapi terbatas hanya pada masalah Tuhan, perbuatan-perbuatan kreatif-Nya, dan hubungan-Nya dengan alam ciptaan. Artinya, Al- Kindi mengikuti Aristoteles tetapi tidak sama dengan gurunya, dan di sinilah orisinalitas Al-Kindi.

Bahwa Al-Kindi hidup pada masa fi lsafat belum dikenal secara baik dalam tradisi pemikiran Islam, tepatnya masa transisi pemikiran teologi pada filsafat. Dalam kondisi ini, Al-Kindi jelas menghadapi banyak kesulitan dan persoalan, baik internal gagasan maupun eksternal masyarakat, dan pikirannya banyak dicurahkan untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut.

Namun, hal itu bukan berarti Al-Kindi tidak mempunyai pemikiran filsafatnya sendiri yang orisinal sehingga tidak layak disebut seorang filosof, atau bahkan hanya sebagai seorang penerjemah seperti dituduhkan beberapa pihak. Uraian di atas, meski singkat dan tidak utuh, menunjukkan bahwa Al-Kindi adalah benar-benar seorang filosof yang orisinal.

Al-Kindi (801–873 M)secara kronologis dapat dianggap sebagai tokoh pertama yang berusaha menyelaraskan agama dan filsafat lewat berbagai cara,dan upayanya tersebut ternyata kemudian diikuti oleh banyak filosof sesudahnya, seperti Al-Farabi (870–950 M),Abu Sulaiman Al-Sijistani (932–1000 M),Ibn Miskawaih (932–1030 M),Ibn Sina (980–1037 M) sampai Ibn Rusyd (1126–1198 M),tentu dengan caranya masing-masing sesuai dengan konteks dan aliran filsafat yang dianutnya.

Konsep Al-Kindi tentang proses penciptaan semesta yang tercipta dari tiada (creatio ex nihilo) dengan berdasarkan atas nalar filsafat, bukan teologis sebagaimana dalam tradisi pemikiran Islam, adalah gagasan orisinal Al-Kindi yang tidak terdapat pada para pemikir Muslim yang lain. Konsep penciptaan semesta para filosof Muslim secara umum dapat dibagi dua. Pertama, bersifat creatio ex nihilo dengan dasar nalar teologis. Kedua, bersifat creatio ex materia dengan dasar nalar filsafat, baik lewat emanasi seperti Al-Farabi atau gerakan seperti Ibn Rusyd. Al-Kindi menggabungkan kedua konsep tersebut.

Secara umum tampak Al-Kindi berusaha menjelaskan persoalan keagamaan berdasarkan logika dan perspektif filsafat, bukan dengan dasar wahyu atau naqli, bahkan kebenaran logika dan fi lsafat juga digunakan untuk membenarkan dan menjustifi kasi informasi wahyu. Di sinilah kelebihan Al-Kindi. Meski demikian,pemikiran Al-Kindi bukan tanpa masalah. Persoalan proses bagaimana Tuhan berkarya dan hubungan-Nya dengan semesta, apakah Tuhan bersifat imanen (tasybîh) atau transendens (tanzîh) atas semesta, adalah satu persoalan yang ditinggalkan oleh Al-Kindi.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

#22HBB Day 17 and Day 18 Buku "FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer" karya Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag.


Untuk meneruskan buku "Dunia Sophie" yang sudah selesai dibaca di Challenge 22 Hari Baca Buku @22haribacabuku saya akan meneruskan membaca dua buku Filsafat yaitu buku "FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer" karya Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. untuk memahami lebih dalam mengenai Filsafat dalam Islam setelah sebelumnya di Dunia Sophie pemikiran Eropa Barat lah yang menjadi acuan dan buku "FILSAFAT SEBAGAI ILMU KRITIS" karya Franz Magnis-Suseno, S.J. untuk mengasah lagi dan menghidupkan Filsafat sebagai ilmu kritis yang merupakan tools penting yang harus kita pelajari.

Saya akan berusaha mengupdate hasil bacaan saya di Instagram dan blog ini. Stay tuned :)

Semoga dilancarkan untuk mendalami lautan ilmu yang begitu luas. Aamiin..

Day 17 #22HBB Vol. 2 (7 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer - Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. – hlm. 1-23 / 296

Insight/rangkuman/catatan:

Filsafat adalah alat. Sebagai alat, ia tidak saja berfungsi mengantarkan kita untuk masuk memahami kehidupan, tetapi juga menemukan kearifan di balik kehidupan itu sendiri. Kearifan adalah puncak berfilsafat. Kearifan akan muncul jika antara aktualitas teori sebagai entitas filsafat dengan realitas perilaku kita berpadu: membumi dan nyata adanya. Untuk itu, sudah seyogianya kita berterima kasih kepada para filsuf. Hidup serasa bermakna berkat amal jariah mereka berupa alat-alat berpikir, metode, dan pendekatan yang mereka ciptakan dan temukan sehingga menjadikan kehidupan kita berkualitas. Tanpa filsafat, jangan harap kita dapat mengetahui dan menjelaskan siapa kita sebenarnya. Namun demikian, buku ini tidak hanya akan mengajak untuk mengetahui ihwal teknis atau alat apa yang dipergunakan oleh filsuf-filsuf Muslim untuk berfilsafat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana mereka berpikir dan beberapa informasi epistemologis yang paling bermanfaat dan memungkinkan untuk dipahami oleh kita sebagai pembaca. Dari Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd yang peripetatik, Suhrawardi yang ilmuniasionistik, Mulla Sadra yang teosofi transenden, Ibnu Arabi dengan wahdat al-wujûd, hingga Al-Kindi dengan al-falsafah al-ula, semuanya bertujuan mengetahui hakikat realitas kehidupan dengan menggabungkan segenap sumber pengetahuan secara integratif: akal, intuisi, dan wahyu.

Benar sebagaimana kritik Amin Abdullah, Guru Besar Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, bahwa kajian-kajian fi lsafat Islam yang ada sampai saat ini, di PTAIN atau PTAIS, bahkan di tingkat Pascasarjana sekalipun, masih lebih banyak berkutat pada masalah sejarah dan metafisika. Kenyataannya, silabi dan buku-buku daras Filsafat Islam di Perguruan Tinggi tidak banyak yang keluar dari dua kajian pokok tersebut.

Bahasannya pun berkisar masalah sejarah perkembangan filsafat, aliran-aliran filsafat, dan pemikiran metafisika masing-masing tokoh. Akibatnya, kajian filsafat Islam menjadi tidak mengalami kemajuan yang berarti, apalagi memberikan kontribusi yang signifikan bagi perkembangan pemikiran Islam. Padahal, kajian filsafat sesungguhnya bukan sekadar sejarah dan metafisika, melainkan juga epistemologi, etika, dan estetika; epistemologi adalah kajian tentang metodologi dan logika penalaran sehingga filsafat berarti kajian tentang cara berpikir, yaitu berpikir kritis-analisis dan sistematis. Artinya, filsafat lebih merupakan kajian tentang proses berpikir dan bukan sekadar kajian tentang sejarah dan produk pemikiran.

Salah satu faktor utama kelesuan berpikir dan berijtihad di kalangan umat Islam sampai saat ini, menurut penulis, adalah disebabkan mereka tidak mau melihat dan memerhatikan persoalan filsafat (metodologi) ini. Sebaliknya, seperti ditulis Al-Jabiri (1936–2010 M), sejak pertengahan abad ke-12 M, pasca serangan Al-Ghazali (1058–1111 M) terhadap filsafat, hampir semua khazanah intelektual Islam justru selalu menyerang dan memojokkan filsafat, tanpa memedulikan posisinya sebagai produk, pendekatan, atau metodologi. Padahal, Al-Ghazali sendiri tidak pernah menyerang atau menyalahkan filsafat secara keseluruhan, tetapi hanya pada aspek metafisikanya yang merupakan produk pemikiran, yang dinilai dapat menyeret pada kekufuran. Namun, filsafat sebagai sebuah proses penalaran dan metodologi justru tetap dinilai penting dan harus dikuasai.

Oleh karena itu, dalam upaya pengembangan dan kajian keilmuan Islam saat ini, kita tidak bisa berpaling dan meninggalkan filsafat. Tanpa sentuhan filsafat, pemikiran dan kekuatan spiritual Islam akan sulit menjelaskan jati dirinya dalam era global. Namun, sekali lagi, apa yang dimaksud filsafat di sini bukan sekadar uraian sejarah dan metafisikanya yang notabene merupakan produk pemikiran, melainkan lebih pada sebuah metodologi atau epistemologi. Karena itulah, Fazlur Rahman (1919–1988 M) menyatakan bahwa filsafat adalah ruh atau ibu pengetahuan (mother of science) dan metode utama dalam berpikir, bukan produk pemikiran. Tanpa filsafat, seseorang tidak akan mampu mengembangkan ilmunya, bahkan tanpa filsafat ia berarti telah melakukan bunuh diri intelektual.

Berdasarkan alasan itulah, maka kajian buku ini tidak hanya menyajikan sejarah dan metafisika, tetapi juga epistemologi, etika, dan estetika. Dalam kajian metafisika, konsep-konsep metodologi atau pemikiran epistemologi masing-masing tokoh tetap disampaikan. Subbagian epistemologinya sendiri menjelaskan tiga model epistemologi yang dikenal dalam Islam: bayânî, irfânî, dan burhânî. Ketiga model tersebut, dalam sejarahnya, telah menunjukkan keberhasilannya masing-masing. Nalar bayânî telah membesarkan disiplin fiqh (yurisprudensi) dan teologi (‘ilm al-kalâm), irfânî telah menghasilkan teori-teori besar dalam sufisme di samping kelebihannya dalam wilayah praktis kehidupan, dan burhânî telah mengantarkan filsafat Islam dalam puncak pencapaiannya. Namun, hal itu bukan berarti tanpa kelemahan. 

Berdasarkan hal itu, maka masing-masing bentuk epistemologi tersebut berarti tidak memadai digunakan secara mandiri untuk pengembangan keilmuan Islam, tetapi harus digunakan secara bersama-sama dan berkaitan. Maksudnya, ketiganya harus diikat dalam jalinan kerja sama sirkuler untuk saling mendukung, mengisi, mengkritik, dan memperbaiki kekurangan yang melekat pada masing-masing. Meski demikian, ketiga-tiganya sekaligus rasanya juga belum cukup untuk memecahkan persoalan-persoalan keagamaan kontemporer yang sangat kompleks sehingga perlu ditambah dengan epistemologi tajrîbî , yaitu bentuk penalaran yang mengandalkan pada eksperimen dan pengamatan objek fisik secara langsung.

Meski demikian, jalinan keempat bentuk epistemologi di atas tidak dapat berjalan begitu saja, tetapi tetap harus didukung oleh disiplin ilmu-ilmu sosial modern, seperti hermeneutika, sosiologi, antropologi, kebudayaan, dan sejarah sehingga produk yang dihasilkannya menjadi aktual dan utuh. Karena itu pula, jalinan epistemologi tersebut juga tidak boleh bersifat final, eksklusif, dan hegemonik, tetapi harus senantiasa terbuka dan inklusif. Sebab, finalitas dan eksklusivitas hanya akan mengantarkan pada jalan buntu dan tidak memberikan kesempatan bagi munculnya kemungkinan-kemungki nan baru yang mungkin lebih baik dalam menjawab problem-problem keagamaan dan kemanusiaan kontemporer. Di samping itu, finalitas dan eksklusivitas berarti menghilangkan kenyataan bahwa keragaman adalah keniscayaan dan keberagamaan adalah proses panjang menuju kematangan (on going process), bukan hal instan yang “sekali jadi”.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

Day 18 #22HBB Vol. 2 (8 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 FILSAFAT ISLAM: Dari Klasik Hingga Kontemporer - Dr. H. A. Khudori Soleh M.Ag. – hlm. 24-52 / 296

Insight/rangkuman/catatan:

SUMBER-SUMBER PEMIKIRAN RASIONAL-FILOSOFIS DALAM ISLAM

Dapat disampaikan kesimpulan sebagai berikut. Pertama, pemikiran rasional-filosofis Islam tidak merupakan jiplakan atau plagiasi dari filsafat Yunani sebagaimana yang dituduhkan sebagian kalangan, meski diakui bahwa filsafat Yunani telah memberikan kontribusi sangat besar bagi perkembangan pemikiran filsafat Islam sesudahnya. Sebab, kenyataan yang ada menunjukkan bahwa pemikiran rasional dalam hukum (fiqh) dan teologi Islam Muktazilah telah lebih dahulu mapan sebelum datangnya filsafat Yunani lewat terjemahan. Pemikiran rasional Islam inilah bahkan yang telah berjasa memberikan ruang bagi diterimanya filsafat Yunani.

Kedua, sistem pemikiran rasional Islam tersebut lahir atau muncul dari analisis dan perkembangan bahasa Arab (nahw), lewat berbagai mazhab bahasa yang ada. Berawal dari analisis dan rasionalisasi bahasa ini kemudian berkembang menjadi rasionalisasi dalam bidang hukum (fiqh) dan teologi, karena adanya kebutuhan untuk menjelaskan secara rasional-filosofis atas makna dan maksud teks suci dan menjawab problem-problem yang muncul saat itu secara rasional.

Ketiga, pemikiran dan fi lsafat Yunani masuk ke dalam khazanah pemikiran Islam pertama kali pada masa khalifah Al-Makmun (811–833 M) dari dinasti Bani Abbas (750–1258 M), lewat proyek terjemahan. Proses terjemahan atas pemikiran rasional filsafat Yunani ini sendiri dilakukan karena telah berkembang dan mapannya tradisi berpikir rasional filosofis di kalangan masyarakat Islam, terutama fiqh dan teologi Muktazilah, di samping untuk mencari tambahan referensi atau amunisi dalam menghadapi pemikiran-pemikiran heterodoks yang juga mulai berkembang saat itu.

PERGUMULAN FILSAFAT DENGAN ILMU KEAGAMAAN

Pertama, pemikiran filsafat Islam sesungguhnya tetap dan terus berkembang sampai masa modern, bahkan kontemporer ini. Hanya saja, ada perubahan bentuk dan orientasi filsafat setelah masa Ibn Rusyd (1126–1198 M). Yaitu, pemikiran filsafat yang awalnya berkembang secara mandiri dan bersifat rasional, kemudian bersinergi dengan tasawuf, sehingga melahirkan tasawuf falsafi : sebuah pemikiran yang menggabungkan antara pemikiran rasional dan intuisi. Selain itu, pemikiran rasional-intuitif ini lebih banyak berkembang di kalangan sarjana Syiah, bukan Sunni, sehingga apa yang dimaksud bahwa filsafat Islam telah mati pasca-Ibn Rusyd, sesungguhnya, hanya terjadi dalam masyarakat Sunni, bukan masyarakat Islam secara keseluruhan.

Kedua, perkembangan filsafat (Sunni), jika dihitung sejak masa Al-Kindi (806–875 M), tepatnya penulisan buku ‘Filsafat Pertama’ (al-Falsafah al-Ûla) yang dipersembahkan untuk khalifah Al-Mu`tashim (833–842 M) dan berakhir pada masa Ibn Rusyd (1126–1198 M), pemikiran filsafat Islam berarti hanya hidup selama sekitar 350 tahun; suatu masa yang tidak sebentar. Bahkan, jika dibanding dengan perjalanan Islam sendiri yang dimulai sejak turunnya wahyu pertama masa Rasul (611 M) sampai sekarang yang berarti telah berjalan selama 1400 tahun, filsafat Islam berarti telah memberi kontribusi selama seperempat kehidupan Islam sendiri, suatu masa waktu yang jelas tidak sedikit.

Ketiga, grafik perkembangan pemikiran filsafat dalam Islam ternyata tidak senantiasa naik dan mulus, tetapi juga mengalami pasang surut; pertama-tama disambut dengan baik karena diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dan menghadapi pemikiran-pemikiran ‘aneh’, tapi kemudian dicurigai karena ternyata tidak jarang justru digunakan untuk menyerang ajaran agama Islam sendiri yang dianggap telah baku, khususnya pada masa Ibn Hanbal. Setelah itu, filsafat dikembangkan oleh Al-Farabi dan Ibn Sina , kemudian jatuh lagi karena serangan Al-Ghazali; bangkit lagi pada masa Ibn Rusyd tapi akhirnya tidak terdengar suaranya, sampai sekarang, kecuali dalam mazhab Syi`ah.

Keempat, kecurigaan dan penentangan yang dilakukan oleh sebagian tokoh Muslim terhadap filsafat, seperti yang dilakukan Ibn Hanbal, bukan semata-mata disebabkan bahwa ia berasal dari luar Islam, tetapi lebih didasarkan atas kenyataan bahwa saat itu gerakan filsafat dinilai mengandung dampak yang berbahaya bagi aqidah masyarakat. Misalnya, pemikiran Ibn Rawandi (827–911 M) dan Al-Razi (865–925 M) yang sampai menolak kenabian karena mengikuti filsafat, atau perilaku oknum tertentu yang meremehkan ajaran agama dengan berdasarkan atas nama filsafat pada masa Al-Ghazali. Akan tetapi, yang harus juga dicatat adalah bahwa hal itu bukan berarti menunjukkan bahwa seluruh filosof dan ajaran filsafat adalah salah. Adalah suatu keputusan yang tidak arif dan tidak tepat jika kita menjatuhkan putusan hanya karena adanya beberapa kasus yang tidak signifikan dan melupakan jasa-jasanya yang besar.

Kelima, serangan Al-Ghazali terhadap filsafat sesungguhnya lebih ditujukan pada aspek metafi sikanya dan bukan pada logika atau epistemologinya, sesuatu yang menjadi inti pemikiran filsafat. Sebab, Al-Ghazali sendiri mengakui pentingnya logika dan menggunakannya untuk membumikan gagasan-gagasannya. Artinya, dalam analogi fiqh, Al-Ghazali hanya mengkritik fiqhnya dan bukan ushûl al-fiqh-nya, menolak produk dan bukan alat atau metodenya. Berdasarkan hal itu, berarti tidak ada alasan bagi kita untuk menolak filsafat sebagai sebuah epistemologi atau metode berpikir meski kita bisa tidak sepakat pada bagian metafisika atau hasil pemikirannya.

Keenam, perselisihan antara kaum filsafat dan Al-Ghazali tampak juga disebabkan oleh adanya perbedaan dalam memahami makna dari sebuah istilah yang digunakan. Sebagaimana dikatakan Al-Hamadani ,44 setiap kelompok atau aliran pemikiran, seperti teologi, filsafat, tasawuf, fiqh, dan seterusnya mempunyai istilah-istilah teknis tersendiri, di mana istilah-istilah yang digunakan tersebut bisa jadi sama tetapi mempunyai makna yang berbeda sesuai dengan yang dimaksud oleh si pembicara. Karena itu, seseorang dari golongan tertentu tidak bisa langsung mengklaim atau memberikan makna tentang sebuah istilah sebelum meminta penjelasan secara baik kepada si empunya istilah. Menjatuhkan keputusan terhadap pembicara sebelum meminta penjelasan tentang apa yang dimaksudkan berarti sama dengan menembak dalam kegelapan, suatu tindakan yang sangat tidak bijak. Ketegangan antara filsafat dan ilmu keagamaan, termasuk juga ketegangan antara tasawuf dan fiqh, mazhab fiqh yang satu dengan yang lain, dan seterusnya, rupanya disulut oleh persoalan ini, tidak adanya sikap tabayun terlebih dahulu sebelum diambil keputusan. Serangan Al-Ghazali terhadap filosof karena istilah “qadim” pada alam adalah bukti nyata akan hal itu.

Ketujuh, para tokoh filsafat Islam, mulai Al-Kindi sampai Ibn Rusyd, dengan caranya masing-masing sesungguhnya telah dan selalu berusaha untuk menyelaraskan antara wahyu dan rasio, antara agama dan filsafat, bukan memisahkannya sebagaimana yang sering dituduhkan. Karena itu, dugaan, asumsi, atau bahkan tuduhan bahwa filsafat (Islam) telah mengabaikan atau bahkan meninggalkan ajaran wahyu, kiranya patut dikaji ulang.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

Friday, April 7, 2023

#22HBB Day 15 and Day 16 Buku "Dunia Sophie" karya Jostein Gaarder - Selesai

 



Day 15 #22HBB Vol. 2 (5 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 Dunia Sophie - Jostein Gaarder – hlm. 575-621 / 798

Insight/rangkuman/catatan:

Soren Kierkegaard dilahirkan pada 1813 dan dididik dengan sangat keras oleh Ayahnya. Melankolia keagamaannya merupakan warisan dari Ayahnya ini.

Kierkegaard mempunyai pandangan yang tajam bagi makna penting individu. Kita ini lebih dari sekadar 'anak-anak zaman'. Dan selain itu, kita masing-masing adalah individu unik yang hanya hidup sekali. Dan Hegel tidak membicarakan hal itu. Hegel lebih tertarik pada jangkauan sejarah yang luas. Inilah yang membuat Kierkegaard marah. Dia beranggapan bahwa idealisme kaum Romantik maupun 'historisisme' Hegel telah mengaburkan tanggung jawab individu terhadap kehidupan nya sendiri. Oleh karena itu, bagi Kierkegaard, Hegel dan kaum Romantik mempunyai kesalahan yang sama.

Menjelang akhir hayatnya, Kierkegaard menjadi sangat kritis terhadap masyarakat. 'Seluruh Eropa sedang menuju kebangkrutan', katanya. Dia percaya bahwa dia hidup pada suatu zaman yang sama sekali tidak mengindahkan hasrat dan kesetiaan. Dia sangat marah pada kehambaran Gereja Lutheran Denmark yang telah mapan. Dia sangat keras mengkritik apa yang mungkin kamu sebut 'agama Kristen Minggu'.

Kierkegaard mulai mempelajari teologi ketika berusia tujuh belas tahun, tapi dia justru semakin asyik dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis. Ketika dia berusia dua puluh tujuh tahun, dia mengambil gelar masternya dengan disertasi 'Mengenai Konsep Ironi'. Dalam karya ini, dia benar-benar bergelut dengan ironi Romantik dan permainan kaum Romantik yang tak terikat dengan ilusi. Dia menempatkan 'ironi Socrates' sebagai lawannya. Meskipun Socrates telah memanfaatkan ironi, tujuannya adalah untuk mendapatkan kebenaran mendasar tentang kehidupan. Tidak seperti kaum Romantik, Socrates adalah seperti apa yang disebut Kierkegaard sebagai pemikir 'eksistensial'. Yaitu, seorang pemikir yang membawa seluruh eksistensinya dalam perenungan filosofis nya. 

Menurut Kierkegaard yang penting bukannya mencari Kebenaran dengan huruf K besar, tapi menemukan jenis kebenaran-kebenaran yang memberikan makna bagi kehidupan individu. Yang lebih penting adalah menemukan 'kebenaran untukku'. Maka dia menggerakkan individu, atau setiap orang, untuk melawan 'sistem'. Kierkegaard menganggap Hegel telah lupa bahwa dia adalah seorang manusia. Inilah yang ditulisnya mengenai penganut Hegel: 'Sementara sang Profesor yang membosankan menjelaskan segenap misteri kehidupan, dalam keasyikannya dia melupakan namanya sendiri; bahwa dia seorang manusia, tidak kurang dan tidak lebih, bukan bagian dari suatu paragraf.

Kierkegaard percaya bahwa ada tiga bentuk kehidupan. Dia sendiri menggunakan istilah tahap. Dia menyebutnya tahap estetika, tahap etika, dan tahap religius.

Dan kini kita akan membicarakan Karl Marx. Ketika Kierkegaard pergi ke Berlin pada 1814, dia mungkin duduk bersebelahan dengan Karl Marx pada kuliah-kuliah Schelling. Kierkegaard telah menulis sebuah tesis master mengenai Socrates. Pada saat yang hampir bersamaan, Marx telah menulis sebuah tesis doktor mengenai Democritus dan Epicurus, dengan kata lain mengenai materialisme dari zaman Yunani Kuno. Dengan demikian, mereka berdua memulai aliran Filsafat mereka sendiri. Marx menjadi apa yang dikenal sebagai seorang materialis historis dan mengambil Filsafat Hegel sebagai titik tolak. Ia dipengaruhi oleh cara pikir Hegel, tapi keduanya menyangkal 'ruh dunia' nya atau idealisme nya. 

Pemikiran Marx mempunyai tujuan praktis atau politis. Dia bukan hanya seorang filosof; dia juga seorang ahli sejarah, ahli sosiologi, dan ahli ekonomi. Jelas tidak ada filosof lain yang mempunyai pengaruh lebih besar terhadap politik praktis. Di lain pihak, kita harus waspada dalam menyamakan segala sesuatu yang menyebut dirinya Marxisme dengan pemikiran Marx sendiri. Konon Marx mengatakan bahwa dia baru menjadi seorang Marxis pada pertengahan 1840an, tapi bahkan setelah itupun dia kadang-kadang merasa perlu menegaskan bahwa dia bukan seorang Marxis.

Sejak awal mula, kawan dan kolega nya Friedrich Engels memberikan sumbangan pada apa yang kemudian dikenal sebagai Marxisme.

Marx beranggapan bahwa cara kita berpikir sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor material dalam masyarakat. Faktor-faktor material semacam itu jelas sangat menentukan perkembangan sejarah. Hegel menyebut kekuatan yang menggerakkan sejarah itu ruh dunia atau akal dunia. Ini kata Marx justru terbalik. Dia ingin membuktikan bahwa perubahan-perubahan material itulah yang memengaruhi sejarah. 'Hubungan ruhaniah' tidak menciptakan perubahan material, tetapi sebaliknya. Perubahan material menciptakan hubungan-hubungan ruhaniah yang baru. Marx secara khusus menekankan bahwa kekuatan ekonomi dalam masyarakatlah yang menciptakan perubahan dan karena nya menggerakkan sejarah ke depan.

Marx menyebut hubungan material, ekonomi, dan sosial ini dasar masyarakat. Cara masyarakat berpikir, jenis lembaga politik yang ada, hukum mana yang dipunyai, dan yang tidak kalah penting, apa yang terdapat dalam agama, moral, seni, Filsafat, dan ilmu pengetahuan, disebut oleh Marx sebagai supersturktur masyarakat. Kita akan menemukan tiga tingkatan masyarakat. Yang paling dasar adalah syarat-syarat produksi, tingkat selanjutnya adalah sarana produksi masyarakat, dan selanjutnya cara produksi dalam suatu masyarakat, yang menentukan kondisi politik dan kondisi ideologi mana yang dapat ditemukan disana.

Bersama Engel, Marx menerbitkan Communist Manifesto pada 1848. Marx mengemukakan selama periode tertentu, terbentuklah sebuah masyarakat kelas baru yang didalamnya kaum proletar menekan kaum borjuis dengan paksa. Marx menyebut ini kediktatoran kaum proletar. Tapi setelah melewati masa transisi, kediktatoran kaum proletar itu digantikan oleh 'masyarakat tanpa kelas' yang didalamnya sarana produksi dimiliki 'oleh semua', yaitu rakyat sendiri. Dalam masyarakat semacam ini, kebijakan yang diambil adalah 'dari setiap orang sesuai kemampuannya, untuk setiap orang sesuai kebutuhannya'. Pada saat ini, tenaga kerja menjadi milik para pekerja sendiri dan keterasingan kapitalisme sudah tidak ada lagi.

Setelah Marx, gerakan sosialis terbagi kedalam dua aliran utama, Demokrasi Sosial dan Leninisme. Demokrasi Sosial, yang mengambil jalan damai dan dibangun secara lambat laun ke arah sosialisme, adalah cara yang diambil Eropa Barat. Kita dapat menyebut ini revolusi jalur lambat. Leninisme, yang mempertahankan kepercayaan Marx bahwa revolusi merupakan satu-satunya jalan memerangi masyarakat kelas lama, berpengaruh besar di Eropa Timur, Asia, dan Afrika. Dengan cara masing-masing, kedua gerakan itu melancarkan perang melawan kesengsaraan dan penindasan.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

 

 

 Day 16 #22HBB Vol. 2 (6 April 2023)


5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 Dunia Sophie - Jostein Gaarder – hlm. 622-798 / 798 (Selesai)

Insight/rangkuman/catatan:

Untuk menarik kepenasaran teman-teman membaca buku Dunia Sophie ini, di bagian terakhir dalam rangkaian saya menuliskan isi dari buku Dunia Sophie ini saya hanya akan menuliskan intinya saja secara singkat ya.

Kita dapat membicarakan aliran naturalistik dari pertengahan abad kesembilan belas hingga masa kita sendiri. Dengan 'naturalistik' yang kita maksud adalah semacam paham yang tidak menerima realitas lain selain alam dan dunia indra. Oleh karena itu, seorang naturalis juga menganggap umat manusia sebagai bagian dari alam. Seorang ilmuwan naturalis akan menggantungkan diri sepenuhnya pada fenomena alam -bukan pada takhayul-takhayul rasionalistik maupun wahyu Ilahi yang seperti apapun.

Kata-kata kunci dari pertengahan abad terakhir adalah alam, lingkungan, sejarah, evolusi, dan pertumbuhan. Marx telah mengemukakan bahwa ideologi-ideologi manusia merupakan produk dasar masyarakat. Darwin membuktikan bahwa manusia merupakan hasil suatu evolusi biologis yang berlangsung lambat, dan telaah-telaah Freud mengenai bawah sadar mengungkapkan bahwa tindakan-tindakan manusia sering merupakan akibat desakan dan insting 'hewaniah'.

Pada abad kita sendiri gerakan-gerakan bermunculan ke segala arah. Dan salah satu yang penting adalah Eksistensialisme. Ini adalah istilah kolektif untuk beberapa aliran Filsafat yang mengambil situasi eksistensial manusia sebagai titik tolak. Biasanya kita membicarakan Filsafat Eksistensial abad kedua puluh. Beberapa filosof eksistensial ini, atau para eksistensialis, mendasarkan gagasan-gagasan mereka bukan hanya pada Kierkegaard, melainkan juga Hegel dan Marx. 

Dua filosof eksistensialis yang paling penting adalah Friedrich Nietzsche dan Jean Paul Sartre. Sartre mengatakan bahwa Eksistensialisme adalah humanisme. Dengan itu, yang dimaksudkannya adalah bahwa para eksistensialis berangkat dari ketiadaan menuju kemanusiaan. Oleh karena itu, manusia harus menciptakan dirinya sendiri. Dia harus menciptakan hakikat nya atau esensi nya, sebab itu tidak ditetapkan sebelumnya.

Di zaman kita ini, kita juga mengahadapi banyak masalah yang sama sekali baru. Yang paling serius adalah masalah lingkungan. Oleh karena itu arah Filsafat yang paling penting pada abad kedua puluh ini adalah ekofilosofi atau ekosofi.

Hilde pun mendengar suara Ayahnya yang baru saja pulang. Mereka mengobrol tentang alam raya yang bermula dari suatu Dentuman Besar dan melihat langit malam dengan bermiliaran galaksi di angkasa.

Selesai

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

Tuesday, April 4, 2023

#22HBB Day 13 and Day 14 Buku "Dunia Sophie" karya Jostein Gaarder


 

Day 13 #22HBB Vol. 2 (3 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 Dunia Sophie - Jostein Gaarder – hlm. 498-527 / 798

Insight/rangkuman/catatan:

Immanuel Kant dilahirkan pada 1724 di sebuah kota di Prusia Timur bernama Konigsberg, putra seorang pembuat pelana kuda. Dia tinggal di sana praktis sepanjang hidup nya hingga dia meninggal pada umur delapan puluh tahun. Keluarga nya sangat saleh, dan keyakinan agama nya sendiri menjadi latar belakang penting bagi filosofinya. Seperti Berkeley, dia merasa sangatlah penting untuk melestarikan dasar-dasar kepercayaan Kristiani.

Kant adalah filosof pertama yang sejauh ini kita ketahui pernah mengajarkan Filsafat di Universitas. Dia adalah Profesor dalam bidang Filsafat. Alberto menjelaskan ada dua jenis filosof. Yang satu adalah orang yang mencari jawaban sendiri bagi pertanyaan-pertanyaan filosofis. Yang satu nya lagi adalah orang yang menjadi ahli dalam sejarah Filsafat tapi tidak menyusun filosofi nya sendiri, dan Kant adalah gabungan dari dua jenis filosof ini.

Kant beranggapan bahwa baik 'indra' maupun 'akal' sama-sama memainkan peranan dalam konsepsi kita mengenai dunia. Tapi dia beranggapan bahwa kaum rasionalis selangkah terlalu jauh dalam pernyataan mereka tentang seberapa banyak akal dapat memberikan sumbangan, dan dia juga beranggapan bahwa kaum empirisis memberikan tekanan terlalu besar pada pengalaman indra.

Kant menyatakan bahwa bukan hanya pikiran yang menyesuaikan diri dengan segala sesuatu. Segala sesuatu itu sendiri menyesuaikan diri dengan pikiran. Kant menyebut ini Revolusi Copernicus dalam masalah pengetahuan manusia.

Filsafat Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak dapat mengetahui secara pasti seperti apa dunia 'itu sendiri'. Kita hanya dapat mengetahui bahwa dunia itu seperti yang tampak 'bagiku' -atau bagi semua orang. Sumbangan terbesar yang diberikan Kant pada Filsafat adalah garis pembatas yang ditariknya antara benda-benda itu sendiri -das Ding an sich- dan benda-benda sebagaimana yang tampak di mata kita. Kant mengemukakan perbedaan jelas antara 'benda itu sendiri' dan 'benda itu bagiku'. Kita tidak pernah dapat mempunyai pengetahuan tentang benda-benda 'itu sendiri'. Kita hanya dapat mengetahui bagaimana benda-benda itu 'tampak' bagi kita. Sebaliknya, sebelum terjadi nya pengalaman apapun, kita dapat mengatakan sesuatu tentang bagaimana benda-benda itu akan ditangkap oleh pikiran manusia.

Kant pun membuka suatu dimensi keagamaan. Disanalah, dimana akal maupun pengalaman tidak ada, terjadi kekosongan yang dapat diisi oleh oleh iman.

Kemampuan untuk menentukan yang benar dan yang salah itu sama-sama merupakan bawaan lahir sebagaimana sifat-sifat akal yang lain. Hanya karena kita ini makhluk yang cerdas, misalnya, karena memahami segala sesuatu itu mempunyai hubungan kausal, kita semua mempunyai akses pada Hukum Moral Universal yang sama.

Kant merumuskan Hukum Moral sebagai suatu perintah pasti. Dengan ini yang dimaksudkannya adalah bahwa Hukum Moral itu 'pasti', atau bahwa ia berlaku untuk semua situasi. Lagi pula, ia berupa 'perintah' yang berarti memiliki kekuatan dan kewenangan mutlak.

Kant merumuskan 'perintah pasti' ini dengan berbagai cara. Pertama-tama dia mengatakan: "Bertindaklah sesuai dengan ketentuan Hukum Universal". Kant juga merumuskan 'perintah pasti' itu dengan cara begini: "Bertindaklah dengan cara sedemikian rupa sehingga kamu selalu menghormati perikemanusiaan, entah kepada dirimu sendiri maupun kepada orang lain, bukan hanya sekali-sekali, melainkan selalu dan selamanya."

(Selesai)

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku


Day 14 #22HBB Vol. 2 (4 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 Dunia Sophie - Jostein Gaarder – hlm. 528-574 / 798

Insight/rangkuman/catatan:

Alberto memberikan pelajaran lanjutan. Sebelumnya kita telah membicarakan Renaisans, periode Barok, dan Pencerahan. Hari ini kita akan membicarakan Romantisisme, yang dapat digambarkan sebagai masa kebudayaan besar terakhir di Eropa, kita sedang mendekati akhir sebuah kisah panjang.

Romantisisme dimulai menjelang akhir abad kedelapan belas dan berlangsung hingga pertengahan abad kesembilan belas. Tapi setelah 1850 orang tidak dapat lagi membicarakan seluruh 'masa' yang terdiri dari puisi, Filsafat, seni, ilmu pengetahuan, dan musik.

Pernah dikatakan bahwa Romantisisme adalah pendekatan umum terakhir Eropa terhadap kehidupan. Itu dimulai di Jerman, dan timbul sebagai reaksi terhadap tekanan Pencerahan yang sangat kuat pada akal. Setelah Kant dan intelektualismenya yang sejuk, seakan-akan pemuda Jerman mengembuskan napas lega.

Mereka menggantikannya dengan slogan baru seperti, 'perasaan', 'imajinasi', 'pengalaman', dan 'kerinduan'. Beberapa ahli pikir Pencerahan telah menarik perhatian pada pentingnya perasaan -lebih-lebih Rosseau- tapi pada waktu itu, hal tersebut dimaksudkan sebagai kritik atas prasangka terhadap akal. Apa yang dulu nya merupakan aliran terpendam kini menjadi aliran utama kebudayaan Jerman.

Kebanyakan penganut Romantisisme menganggap diri mereka sebagai penerus Kant, sebab Kant telah menetapkan bahwa ada batasan bagi apa yang dapat kita ketahui tentang 'das Ding an sich'. Sebaliknya, dia telah menggarisbawahi makna penting sumbangan ego terhadap pengetahuan, atau kesadaran. Individu kini bebas sepenuhnya untuk menafsirkan kehidupan dengan caranya sendiri. Kaum Romantik memanfaatkan ini sehingga terjadi 'pemujaan-ego' yang hampir tak terkendali, yang mendorong timbulnya sikap mengagung-agungkan genius kesenian.

Beethoven adalah salah satunya. Musiknya mengungkapkan perasaan dan kerinduaannya sendiri. Beethoven dalam satu pengertian adalah seorang seniman 'bebas' -tidak seperti para jagoan Barok seperti Bach dan Handel, yang menyusun karya mereka untuk memuliakan Tuhan, terutama dalam bentuk-bentuk musik yang kaku.

Georg Wilhelm Friedrich Hegel adalah anak sah Romantisisme. Orang hampir dapat mengatakan dia berkembang bersama semangat Jerman ketika semangat itu perlahan-lahan mulai berkembang di Jerman. Dia dilahirkan di Stuttgart pada 1770, dan mulai belajar teologi di Tubingen pada usia delapan belas tahun. Mulai 1799, dia bekerja dengan Schelling di Jena pada waktu Gerakan Romantik mengalami pertumbuhannya yang paling pesat. Setelah menjalani satu periode sebagai asisten profesor di Jena, dia menjadi profesor di Heidelberg, pusat Romantisisme Nasional Jerman. Pada 1818, dia diangkat menjadi profesor di Berlin, tepat pada waktu kota tersebut menjadi pusat spiritual Eropa. Dia meninggal karena penyakit kolera pada 1831, setelah 'Hegelianisme' berhasil mendapatkan pengikut yang sangat besar di hampir semua universitas di Jerman.

Hegel menyatukan dan mengembangkan hampir semua gagasan yang muncul ke permukaan pada periode Romantik. Tapi dia sangat kritis terhadap banyak tokoh Romantik, termasuk Schelling.

Schelling dan juga tokoh-tokoh Romantik lainnya pernah mengatakan bahwa makna kehidupan yang paling dalam ada pada apa yang mereka sebut 'ruh dunia' . Hegel juga menggunakan istilah 'ruh dunia' tapi dalam suatu pengertian baru. Ketika Hegel berbicara tentang 'ruh dunia' atau 'akal dunia', yang dimaksudkannya adalah seluruh perkataan manusia, sebab hanya manusia yang mempunyai 'ruh'.

Dalam pengertian ini, dia dapat membicarakan kemajuan ruh dunia sepanjang sejarah. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa dia mengacu pada kehidupan manusia, pikiran manusia, dan kebudayaan manusia.

Hegel mengatakan bahwa 'kebenaran itu subjektif' dan dengan demikian menyangkal adanya 'kebenaran' tertinggi di atas atau di luar akal manusia. Semua pengetahuan adalah pengetahuan manusia.

Hegel yakin bahwa dasar kesadaran manusia berubah dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, tidak ada 'kebenaran abadi', tidak ada yang kekal. Satu-satu nya titik pasti yang dapat dijadikan pegangan bagi Filsafat adalah sejarah itu sendiri.

Sejarah adalah suatu rangkaian perenungan yang panjang. Hegel menunjukkan aturan-aturan tertentu yang berlaku bagi rangkaian perenungan ini. Siapapun yang mempelajari sejarah secara mendalam akan mengetahui bahwa suatu pemikiran biasanya diajukan atas dasar pemikiran-pemikiran lain yang sebelumnya pernah diajukan. Tapi begitu satu pemikiran diajukan, ia akan dihadapkan pada pemikiran lain. Suatu ketegangan akan muncul di antara dua cara berpikir yang saling bertentangan ini. Tapi ketegangan itu dicairkan oleh pemikiran ketiga yang dapat merujukkan hal-hal terbaik dari kedua sudut pandang tersebut. Hegel menyebut ini suatu proses dialektis, yang terdiri dari tesis, negasi, dan negasi atas negasi. Dia juga menyebut ketiga tahap pengetahuan ini tesis, antitesis, dan sintesis.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

Sunday, April 2, 2023

#22HBB Day 11 and Day 12 Buku "Dunia Sophie" karya Jostein Gaarder

 



Day 11 #22HBB Vol. 2 (1 April 2023)

5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 Dunia Sophie - Jostein Gaarder – hlm. 401-440 / 798

Insight/rangkuman/catatan:

Sophie datang ke Kota Lama bersama Hermes, dan Alberto pun memberikan pelajaran lanjutan.

Pemikiran rasionalis merupakan ciri khas Filsafat abad ketujuh belas. Itu juga berakar kuat di Abad Pertengahan, dan berasal dari Plato dan Socrates pula. Tapi pada abad kedelapan belas, rasionalisme mendapat kritik yang semakin meningkat. Sejumlah filosof berpendapat bahwa pikiran kita sama sekali tidak memiliki ingatan akan apa-apa yang belum pernah kita alami melalui indra. Pandangan semacam ini dinamakan empirisisme.

Tokoh-tokoh empiris -atau filosof berpengalaman- yang paling penting adalah Locke, Berkeley, dan Hume, dan ketiga nya berasal dari Inggris. Tokoh-tokoh rasionalis terkemuka dari abad ketujuh belas adalah Descartes, orang Prancis; Spinoza, orang Belanda; dan Leibniz, orang Jerman. Maka kita biasanya membedakan antara empirisisme Inggris dan rasionalisme Eropa.

John Locke, hidup dari 1632-1704. Karya utama nya adalah "Esai Mengenai Pemahaman Manusia" (Essay Concerning Human Understanding), yang diterbitkan pada 1690. Di situ dia berusaha untuk menjelaskan dua masalah. Pertama, dari mana kita mendapatkan gagasan-gagasan kita, dan kedua, apakah kita dapat memercayai apa yang dikatakan oleh indra-indra kita.

Locke menyatakan bahwa sebelum kita merasakan sesuatu, pikiran itu sama polos dan kosongnya dengan papan tulis sebelum guru masuk ke dalam kelas. Ia juga membandingkan pikiran dengan ruangan yang belum dilengkapi perabot. Tapi kemudian kita merasakan sesuatu. Kita melihat dunia di sekeliling kita, kita mencium, mengecap, merasa, dan mendengar. Dan tidak ada yang melakukan semua ini secara lebih bersemangat dibandingkan dengan bayi. Dengan cara ini muncul apa yang disebut Locke gagasan-gagasan indra yang sederhana. 

Tapi pikiran tidak hanya bersikap pasif menerima informasi dari luar. Beberapa aktivitas berlangsung di dalam pikiran pula. Gagasan-gagasan dari indra itu diolah dengan cara berpikir, bernalar, memercayai, dan meragukan, dan dengan demikian menimbulkan apa yang dinamakannya perenungan. Jadi ia membedakan antara 'pengindraan' dan 'perenungan'.

Locke membedakan antara apa yang dinamakan nya kualitas 'primer' dan kualitas 'sekunder'. Setiap orang sepakat tentang kualitas-kualitas primer seperti ukuran dan berat, sebab kualitas-kualitas itu ada dalam objek-objek itu sendiri. Tapi kualitas-kualitas seperti warna dan rasa itu beragam dari satu orang ke orang lainnya dan dari satu binatang ke binatang lainnya, bergantung pada pengindraan individu.

David Hume, yang hidup dari 1711 hingga 1776, ia menonjol sebagai empirisis paling penting. Dia juga mempunyai peran menentukan sebagai orang yang mengantarkan filosof besar Immanuel Kant menuju Filsafat nya sendiri.

Karya utama Hume adalah "Sebuah Risalah tentang Watak Manusia (A Treatise of Human Nature). Hume adalah filosof yang berpikir dengan cara yang berbeda. Lebih dari filosof manapun, dia mengambil dunia sehari-hari sebagai titik awalnya. Alberto beranggapan bahwa Hume mempunyai perasaan kuat terhadap cara anak-anak -para warga dunia yang baru- menjalani kehidupan.

Hume memulai dengan menetapkan bahwa manusia mempunyai dua jenis persepsi, yaitu kesan dan gagasan. Dengan 'kesan', yang dimaksudkannya adalah pengindraan langsung atas realitas lahiriah. Dengan 'gagasan', yang dimaksudkannya adalah ingatan akan kesan-kesan semacam itu.

Hume pun membahas mengenai hukum sebab akibat. Dan menurut Hume bukan akal yang menentukan apa yang kita katakan dan kita lakukan, tapi itu adalah perasaan.

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku

 

 

Day 12 #22HBB Vol. 2 (2 April 2023)


5 - 64 – Dzikra Yuhasyra ⚽

📚 Dunia Sophie - Jostein Gaarder – hlm. 441-497 / 798

Insight/rangkuman/catatan:

Alberto melanjutkan pelajaran. George Berkeley adalah seorang Uskup Irlandia yang hidup pada 1685 hingga 1753.

Berkeley percaya pada 'ruh'. Dia beranggapan bahwa semua gagasan kita mempunyai penyebab di luar kesadaran kita, tapi penyebab ini tidak bersifat material, melainkan spiritual. Menurut Berkeley, jiwa sendiri dapat menjadi penyebab gagasan-gagasan nya sendiri -seperti ketika bermimpi- tapi hanya kehendak atau ruh lainlah yang dapat menjadi penyebab gagasan-gagasan yang membentuk dunia 'jasmaniah'. Segala sesuatu disebabkan oleh ruh itu yang merupakan penyebab 'segala sesuatu di dalam segala sesuatu' dan yang 'membentuk segala sesuatu'. Dan 'Ruh' yang dibicarakan dan dipikirkan Berkeley adalah Tuhan.

Alberto menyatakan bahwa Ayah Hilde mungkin adalah Tuhan bagi dia dan Sophie. Dan Hilde adalah yang didatangi 'ruh' ini.

Hilde Moller Knag terbangun di kamar loteng rumah kapten tua di luar Lillesand. Jumat, 15 Juni 1990, bunyi kalender itu sekarang, dan hari ini adalah ulang tahun nya. Ia menemukan hadiah dari Ayah nya yang merupakan sebuah buku dengan judul "Dunia Sophie". Ia pun larut membaca buku dari Ayah nya itu yang menceritakan bahwa ada anak bernama Sophie dan guru Filsafat nya Alberto Knox. Hilde pun membaca secara runut sejarah Filsafat yang diceritakan Ayahnya melalui Sophie dan Alberto. Hilde tidak yakin apakah Sophie hanya karangan Ayahnya atau ia benar-benar ada di suatu tempat.

Alberto melanjutkan pelajaran kepada Sophie. Pertama-tama dia akan mengemukakan mengenai Pencerahan Prancis. Lalu akan membahas garis besar Filsafat Kant sehingga sampai pada Romantisme. Hegel juga akan merupakan bagian penting dari gambaran itu. Dan dengan membicarakan dirinya, mau tak mau kita akan mengenal perselisihan sengit antara Filsafat Kierkegaard dan Filsafat Hegel. Dan mereka pun akan membicarakan sedikit tentang Marx, Darwin, dan Freud. Dan sedikit komentar penutup mengenai Sartre dan Eksistensialisme.

Dan Pencerahan Prancis akan memusatkan perhatian pada tujuh hal, yaitu:

1. Tentangan terhadap kekuasaan
2. Rasionalisme
3. Gerakan pencerahan
4. Optimisme kebudayaan
5. Kembali ke alam
6. Agama alamiah
7. Hak Asasi Manusia

@salmanreadingcorner @fimbandung @fimtangerangraya @22haribacabuku