Monday, February 19, 2024

GEOSIGHT - Geoscience Webinar dari Geoaccess Indonesia @geoaccess dengan Topik "GIS-RS dalam Perspektif: Tantangan Ketahanan Pangan dalam Bayang-bayang Deforestasi dan Perubahan Iklim"


 

Baru aja mengikuti GEOSIGHT - Geoscience Webinar dari Geoaccess Indonesia @geoaccess dengan topik "GIS-RS dalam Perspektif: Tantangan Ketahanan Pangan dalam Bayang-bayang Deforestasi dan Perubahan Iklim".

Pembicara dalam webinar ini yaitu Bapak Dr. Ir. Wahyu Wardhana, S.Hut, M.Sc. dari Fakultas Kehutanan UGM. Beliau mengingatkan tentang pentingnya data geospasial untuk berbagai komoditas pertanian di Indonesia, baik pangan, hortikultura, maupun perkebunan. Karena yang jadi permasalahan saat ini adalah tidak adanya data geospasial yang tersedia, kalaupun ada sangat terbatas. Data geospasial per komoditas pertanian ini sangat penting karena dengan data geospasial per komoditas pertanian kita akan bisa melakukan penataan dan perencanaan lebih terperinci mengenai arah pembangunan pertanian Indonesia.

Beliau pun mengajak untuk kita menguasai algoritma, coding, dan AI terkini untuk mengolah data geospasial dan membuat Earth Engine lokal buatan Indonesia, mengingat keunikan topografi dan tutupan lahan di Indonesia yang karakteristiknya berbeda dengan negara lain, sehingga dengan adanya Earth Engine dan pengolahan dengan algoritma spesifik akan menghasilkan data serta hasil yang lebih presisi.

Dari webinar ini saya belajar bahwa dengan data geospasial kita bisa mempunyai helicopter view tentang perencanaan pembangunan pertanian suatu daerah. Tidak melulu tentang untung rugi atau profit ekonomi tapi tentang masalah lingkungan dan kesesuaian geografis dari suatu wilayah.

Hatur nuhun buat Teh Inuy @noey_gumatti yang sudah memberikan info tentang Geoaccess Indonesia. Semoga bisa belajar lebih banyak lagi :)

Friday, February 16, 2024

Belajar QGIS Dasar: Inspirasi dari Teh Inuy dan Aziz


Beberapa waktu kemarin IA SITH ITB mengadakan pertemuan dengan Dekanat SITH untuk membahas beberapa hal dan saya ingin hadir karena sekalian ingin bertemu dengan Pak Angga Dwiartama. Di pertemuan tersebut juga hadir Teh Jim, Aziz, juga Teh Inuy. Setelah beres diskusi dengan Dekanat SITH, saya mengobrol dengan Teh Inuy dan Aziz, dan salah satu topik yang dibahas Teh Inuy adalah mengenai banyaknya peluang project tentang analisis spasial keanekaragaman hayati dan sumber daya alam juga lingkungan. Setali tiga uang, Aziz pun mendalami bidang ini dengan beberapa project di Rumah Amal Salman ITB dan juga karena background kelimuannya di Rekayasa Pertanian SITH ITB. Percakapan singkat di ruangan dilanjutkan sambil jalan dari Labtek Biru ke Gerbang SR. Setiba di Gerbang SR percakapan pun berakhir.

Tak lama berselang, beberapa hari setelah pertemuan tersebut Teh Inuy melalui DM Instagram menghubungi saya dan memberi tahu tentang pelatihan GIS / Sistem Informasi Geografis untuk ketahanan pangan yaitu analisis  kesesuaian lahan untuk Food Estate (Lumbung Pangan) di Kalimantan Tengah dari salah satu konsultan geoscience. Saya coba buka postingan dari salah satu konsultan geoscience tersebut dan tertarik dengan aplikasi QGIS yang ternyata open source dan bisa didownload dengan bebas yang dijadikan sebagai aplikasi GIS yang digunakan dalam pelatihan tesebut. Saya pun meluncur ke YouTube untuk mempelajari QGIS. Setelah menonton beberapa tutorial saya memutuskan untuk menginstall QGIS karena penasaran. Hehehe Maklum, selama S1, yaitu di Rekayasa Pertanian SITH ITB, saya pernah belajar sedikit tentang GIS/SIG di mata kuliah Pengelolaan Bentang Alam Terpadu (PBAT). Ternyata menggunakan QGIS cukup menyenangkan dan lebih ringan dibanding pengalaman saya dulu menggunakan ArcGIS. Sepertinya laptop saya memang spek nya rendah sih pada saat itu. Hehe

Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Di bawah ini layout Peta Pertama yang saya buat. Masih sederhana, masih newbie. Peta ini menampilkan filter perbedaan jumlah penduduk negara di Asia dengan warna yang berbeda. Yang yang bergradasi hijau di bawah saya sertakan legenda dari interval jumlah penduduk yang dimaksud.

 

 


 





Saya kira akan sangat penting untuk saya kuasai kedepan mengenai SIG (Sistem Informasi Geografis) ini, termasuk untuk dunia Pertanian dan Perencanaan Pertanian. Dan kebetulan saya akan mengambil matkul Perencanaan Wilayah Partisipatif semester ini. Semoga jadi awal yang baik :)


Setelah belajar layouting lebih kompleks, saya mencoba membuat peta yang lebih rumit. Sehingga saya membuat Peta Kelurahan Cigending, Kecamatan Ujungberung, dan Kota Bandung, tempat dimana saya tinggal. Bisa dilihat di bawah ini, juga di banner postingan ini di atas ya.

 

 

Hasil percobaan pertama menerapkan layouting yang sedikit lebih kompleks :)

Dan peta di bawah ini merupakan peta tutupan lahan sawah di Provinsi Jawa Barat di tahun 2019, peta yang berhubungan dengan perencanaan di bidang pertanian, sesuai dengan yang disarankan Aziz kepada saya untuk dicoba.




Sedangkan di bawah ini merupakan peta tutupan lahan pertanian kering, perkebunan, dan oleh pemukiman di tahun 2019.




 



Gambar di bawah ini adalah gambar globe Indonesia yang bersumber dari Citra Google Satellite.



Video Kompilasi

 
 
Yak, begitulah sedikit cuplikan hasil peta dan belajar QGIS dasar dari saya yang masih pemula ini, semoga bisa terus belajar dan mendalami Sistem Informasi Geografis (SIG), khususnya untuk Perencanaan Pertanian. Mohon bimbingan dan arahan dari para suhu, senior, dan expert di bidang ini. Semangat terus belajar, semoga hal ini akan bermanfaat dan menghasilkan kedepannya. Aamiin.. 💓

Sunday, February 11, 2024

Arti Cinta Untukku

Arti Cinta Untukku

 



Di umurku yang dua tahun lagi kepala tiga, berbicara tentang cinta bukan lagi perkara main-main atau hanya sekedar bercandaan, tapi mendekati hal serius penuh tanggung jawab. Dalam Islam tidak ada namanya pacaran dan sudah ada caranya tersendiri melalui taaruf. Tapi melihat berbagai cerita orang, proses yang sesuai syariat pun tidak selalu berjalan mulus dan menghasilkan pernikahan yang bahagia, begitu pula dengan cara yang lainnya. Tapi tenang-tenang pembaca sekalian, topik tulisan ku ini tidak akan membahas dan mengkritisi tentang apakah pacaran atau taaruf yang harus dilalui untuk menuju pernikahan, tapi lebih kepada bagaimana seorang Dzikra mendefinisikan "Cinta" berdasarkan apa yang dipahaminya. Mari kita simak bersama!

Mengutip beberapa sumber dari beberapa pembicara, bagi seorang Dzikra ada tiga jenis "Cinta". Yang pertama adalah "Fatherly and Motherly Love" yaitu Cinta yang sebanding dengan ketulusan kasih sayang orang tua atau bapak dan ibu kepada anaknya, kakak kepada adiknya, adik kepada kakaknya, dan juga hubungan keluarga lainnya, dan merupakan cinta tanpa pamrih dan tanpa mengharap balasan. Cinta yang kedua adalah "Friendship Love" yaitu Cinta yang sebanding dengan ketulusan kasih sayang seorang sahabat kepada rekan sahabatnya, kasih sayang tulus pertemanan. Dan yang ketiga adalah "Romantic Love" yaitu cinta asmara serta ketulusan kasih sayang seorang suami kepada istri atau pasangan yang diiringi oleh hasrat dan ketertarikan seksual. Tiga jenis cinta ini sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari tentunya.

Menurut saya, untuk seorang pasangan atau yang sedang mencoba mencari pasangan, ketertarikan pertama saat bertemu lawan jenis bisa melalui "Friendship Love" yang berujung kepada "Romantic Love" ataupun langsung jatuh kepada "Romantic Love" dengan catatan hanya bertemu sebentar dan langsung melangsungkan pernikahan tanpa melalui hubungan persahabatan atau pertemanan. Dan hubungan pasangan atau suami istri ini akan langgeng apabila bisa mengkombinasikan ketiga jenis cinta, baik "Friendship Love", "Romantic Love", dan berujung pada "Fatherly and Motherly Love" dimana ikatan kasih sayang sudah pada puncaknya tanpa diiming-imingi pamrih atau balasan.

Pertanyaan bagi seorang jomblo seperti saya ini adalah bagaimana membangun ketiga jenis Cinta untuk membangun hubungan yang everlasting? Mungkin ini hal yang menjadi catatan bagi diri saya pribadi yang harus saya terapkan untuk diri sendiri, dan saya persilahkan teman-teman mencari versi dari teman-teman sendiri. Untuk meraih "Friendship Love", temukanlah circle dimana kita bertumbuh bersama menjadi sahabat yang tulus berbagi dan membangun jalinan pertemanan yang erat. Carilah komunitas-komunitas yang memiliki minat serupa yang membangun ikatan dan banyak kesamaan sehingga akan terbangun kedekatan yang tanpa disadari akan menjalin hubungan persahabatan yang kuat. Untuk meraih "Romantic Love" adalah bagaimana kita memperbaiki dan mempersolek diri baik secara fisik maupun batin juga perilaku. Ketertarikan untuk membangun "Romantic Love" bisa berasal dari banyak faktor dan setiap orang memiliki alasan yang unik dan berbeda- beda, apakah karena fisik ketampanan dan kecantikan, sifat-sifat tertentu maupun sikap dan kebiasaan yang sering dilakukan. Oleh karena itu bangunlah faktor-faktor tersebut sehingga kita bisa menarik "Romantic Love" sesuai dengan apa yang kita ingin tampilkan dan tonjolkan. Dan untuk membangun "Fatherly and Motherly Love" baik untuk pasangan maupun orang lain adalah bagaimana mencamkan dalam diri dan hati kita bahwa Cinta yang kita berikan hanyalah akan dibalas oleh Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, baik secara langsung di dunia maupun di akhirat. Dengan memiliki sikap tersebut maka kita akan memberikan Cinta dan ketulusan kasih sayang tanpa pamrih dan tanpa berharap balasan.

Saya ingin menutup tulisan ini dengan hadits yang menjadi panduan untuk memilih pasangan. Berikut di bawah ini:


Syarah Riyadhus Shalihin, Hadits No. 364

Memilih Wanita

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

تُنْكَحُ الْمَرْاَةُ لِاَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

"Wanita itu dinikahi karena empat hal, yaitu karena hartanya, karena derajatnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita yang beragama niscaya engkau akan beruntung." (Muttafaq alaih)

Pengesahan hadis:
Diriwayatkan oleh Bukhari (IX/132-Fathul Bari) dan Muslim (1466)

Kandungan hadis:
- Beberapa hal yang mendorong seorang laki-laki menikahi seorang wanita adalah harta, nasab, kecantikan dan agama.

- Yang paling baik dan utama dari semua itu adalah agama, karena wanita yang taat beragama akan membantu seorang hamba untuk mentaati Allah.

- Penekanan Islam terhadap pemeluknya untuk menikahi wanita shalihah yang taat beragama, karena dia akan membantu hamba untuk berbuat ketaatan kepada Allah.

- Ketika yang menjadi dasar pernikahan itu agama, pernikahan itu akan langgeng sebab agama merupakan petunjuk sekaligus pembimbing.

 

Akhir kata, ayo pantaskan diri karena pada saatnya datang kita harus sudah siap lahir maupun batin untuk menjalani dan menghadapinya.

Kira-kira itulah Cinta bagi seorang Dzikra, jadi apa arti Cinta untukmu? Yuk boleh comment di bawah 😍

Friday, February 9, 2024

Dream - Steve Harvey

@dzikrayr

The biggest adventure you can take is to live the life of your dreams :) Don't be afraid to dream. Make all your dreams come true!

♬ original sound - Dzikra Yuhasyra

 

The biggest adventure you can take is to live the life of your dreams 😃 Don't be afraid to dream. Make all your dreams come true!

Wednesday, February 7, 2024

Tony Robbins | Tell Me Your State and I’ll Tell You Your Future



“The difference between the dreamers and the doers? One word: State.” – Tony Robbins


Looking for a new result in a certain area of your life?

Or a better result than what you’ve had in years past?

We don’t get new results magically. We get new results from new behaviors.

But many don’t understand the key difference between wanting something and making the shifts necessary to see it through to reality.

People say they’ve “tried everything”. But they don’t embody the changes necessary to meet their goal. They just go through the motions...

Really, you’ve tried everything? Every possibility? Every antidote? Every angle?

Or did you try a few things, get discouraged when they didn’t work, and give up?

We give up because not seeing results puts us in a disempowered state.

The difference between the dreamers and the doers? One word: State.

What do I mean by state?

Your physicality. The physical state you are in.

You can be in a state of fear, overwhelm, stress, abundance, joy, gratitude...

Tell me your state and I’ll tell you your future.

It’s often far less about a person’s ability and more about their behavior.

Look at athletes. Have you ever been able to predict with accuracy if a player will make a basket or goal? Something about their state clued you in.

They’re going to miss this free throw...

Or they’ve got this. You can see it in their eyes, in their body.

When a person is in a state of absolute certainty (think Tom Brady when his team is down in the final minutes of the game) the results are unstoppable.

Talent and skills are of no use if you don’t have the right state to execute with.

Have you ever met an incredibly talented person with a lousy state? They just couldn’t snap out of it, couldn’t apply themselves, or reach for more. They were stuck in a pattern of complacency, comparison, overwhelm, frustration, disappointment, or defeat.

Maybe that’s been you, friend.

Luckily no state is permanent.


Two Ways to Change Your State

Here’s what you need to know – you don’t have to stay in a lousy state. You don’t have to stay in a mediocre state.

There are two ways to change your state in an instant.

The first: change your physiology.

Think about someone who is feeling depressed. What is their body doing?

Where are their shoulders? Are they held back and proud? Or are they slumped forward?

How’s their breathing? Is it full and rich? Or is it shallow?

What’s their head doing? Is it upright, or hanging low?

The mind takes these physical cues and there are biochemical changes that happen.

The same can be said for when we feel excited. How do you breathe when you’re feeling excited? What’s your posture like?

This is the first way to snap yourself out of a lousy state and into an empowering one.

The second way to change your state immediately is to change your FOCUS.

Where focus goes, energy flows.

Think about it: If you’re ruminating on how someone at your job was rude to you, took credit for your idea, or left you out of an important decision, what state are you most likely going to be in?

A pissed off one.

And if you focus on how someone has taken advantage of you or screwed you over, you’re going to feel it, even if it’s not true.

How many negative emotions do you experience in a day due to focusing on situations that create states of fear, anger, and overwhelm?

What if you focused on what’s working instead? What kind of state would you be in if you thought about all the GOOD things happening to you throughout the day?

What kind of emotions would you feel if you thought about a warm interaction you had with a manager or colleague, one where your skills and passion felt seen and valued?

Or a moment where your team crossed the finish line together on a big project and celebrated?

Or a loved one’s face lit up because of something kind you did or said?

How different is life experiencing that state?

What you focus on is everything.

In today’s world everyone is competing for your attention, and they’re aiming to profit from it.

Social media, the news...

But it’s up to you to direct where your focus goes, friend.

Control your focus, control your life.




The Ultimate Comeback


Do you remember Andre Agassi?

He was one of the first athletes I had a chance to work with in my early thirties.

Andre was injured and went from being the number one tennis player in the world to not even ranking in the top 25.

He was incredibly frustrated and close to quitting the sport all together.

At the time he was dating a famous actress, who happened to be one of my clients.

After the injury, she suggested Andre work with me.

“I don’t need to be motivated,” was Andre’s response.

“He isn’t a motivator; he’s a strategist,” the actress offered in return.

Andre is a good friend and a very nice person, but he was neither of those two things when he walked through my door for our first session.

Can nice people be mean? Absolutely. And Andre was in a mean state. Because, really, he was mad at himself.

He came in, shook my hand, and said “OK, do your crap.”

I blinked at him.

“I don’t do crap and you're in my home. I’m going to require a different attitude.”

To his credit he agreed.

“Have you ever hit a tennis ball perfectly?” I asked him.  He offered a sarcastic “no”, but eventually he admitted to hitting a tennis ball with such precision, such skill, that he deemed it a perfect hit.

“Visualize yourself doing it.” I instructed.

And he did. He closed his eyes and I had him visualize hitting a tennis ball perfectly over and over again.

His face started to change. His shoulders weren’t quite as slumped as they were when he first walked in.

We were making progress.

“But my issue is with my wrist.” he countered at one point.

“When you hit the ball perfectly, are you focusing on your wrist?” I asked.

“Well, no,” he responded. “I didn’t even have to think about it.”

Bingo.

“There’s a state inside of you where the perfect swing happens. All we need to do is get you back in that state. But in a state of frustration, you can’t find it and you’re doing what all athletes do... You get caught up in a habit that no longer works and now you feel like you’re choking. The failures are mounting, you’re in a frustrated state, and you can’t find the answer.”

“What’s the state?” he asked.

I came prepared.

If you’re reading this, are you ancient enough to remember a thing called a VHS tape?

I played a tape of him from Wimbledon.

In the recording, he saunters out onto the court and adopts a prowling quality to his movements. Lethal as a jungle cat.

He bounces the ball, once, twice...

He looks up and stares directly into his opponent’s eyes..

Swishes his hair (the flare this man possessed) ...

And dominates.

“Do you remember that moment?” I asked Andre.

“Yes, yes I do.”

“What were you thinking in that moment?”

“I thought, why did that other guy even bother to show up?” he replied. Andre had that level of certainty in his skills before the injury.

I played another tape, the one from the French Open.

He walks onto the court completely differently. There’s no bounce in his step, no energy. He looks at his opponent right before he swings, and I freeze the tape right in that moment. His eyes tell all.

“Do you remember that moment?” I ask.

“Yes.”

“And what were you thinking?”

“I was thinking about the last time that guy beat me and how I can't go through it again.” Andre said quietly.

That’s the difference between victory and defeat.

I had him focus on what he does at his best and rehearse it repeatedly.

He won the next tournament.

He placed second in the next one, third, then first. In four months, he was back to number one, and he gave me an unbelievable amount of public credit, probably more than I deserve. Maybe not.

How fast can you change your state, my friend? In a heartbeat.

It’s where the radical change in physiology (your voice, your body, your movement) altars your biochemistry. But you can also do it by changing your focus.

Is there an area of your life that could use a state change?

Maybe it’s in the way you show up at work or in meetings.

Or maybe it’s the state you walk in the door with after a long day. The one your partner and kids are met with.

Or maybe it’s that dream you’ve been holding on to – your life at the next level – that requires a different state, my friend.

Change is always available to you, and it starts with your physical body and your focus.

Here’s to living in an empowered state.

Live with passion!



Tony Robbins



Pentingnya Kebijakan Pemupukan yang Berimbang



Pada postingan kali ini saya ingin menulis mengenai materi yang berhubungan dengan bahan kuliah pada saat saya S1 atau sarjana di Rekayasa Pertanian SITH ITB juga skripsi saya yaitu pentingnya "kebijakan pemupukan berimbang" yang menjadi salah satu hal yang krusial untuk diterapkan dan disebarluaskan di Indonesia. Masih banyak kalangan yang belum sadar dan mengetahui mengenai bagaimana pemupukan berimbang ini, khususnya petani pemula, dan semoga postingan ini memberikan clue atau sedikit pencerahan mengenai masalah yang umum terjadi di negeri kita ini.

Kelebihan dosis pemupukan terlebih pupuk kimia akan menyebabkan unsur hara menjadi jenuh di dalam tanah sehingga pada akhirnya akan mendegradasi lahan dan menimbulkan kerusakan pada tanah. Awareness atau kesadaran pengaplikasian pemupukan berimbang ini masih harus ditingkatkan di lapangan karena seringkali petani pemula maupun petani tradisional pada umumnya belum menerapkan pemupukan berimbang dan masih mengandalkan naluri, insting, dan warisan cara dari orang tua atau kebiasaan di wilayah setempat. Sebelumnya untuk mengetahui mengenai pengetahuan dasar tentang pupuk, pemupukan, unsur hara, dan nutrisi tanaman bisa disimak video di bawah ini ya :)




Setelah teman-teman tahu mengenai pupuk, pemupukan, unsur hara, dan nutrisi tanaman kita harus menyadari pentingnya pengaplikasian pupuk secara berimbang. Teman-teman bisa simak materi dasar tentang "pemupukan berimbang" di bawah ini yang saya download dari Portal Universitas Medan Area.





Konsep pemupukan berimbang adalah pemberian sejumlah pupuk untuk mencapai ketersediaan hara-hara esensial yang seimbang dan optimum ke dalam tanah.

Dengan penerapan pemupukan berimbang diharapkan sesuai status hara tanah, maka kebutuhan tanaman dan target hasil (neraca hara) bisa tercapai.

Adapun penentuan dosis pupuk yang sesuai status hara tanah dan kebutuhan tanaman ditetapkan dengan uji tanah.

Pengelolaan bahan organik dan pupuk hayati dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pupuk anorganik.


Prinsip Pemupukan

Tepat Jenis: Formula pupuk sesuai kondisi tanah dan kebutuhan tanaman.

Tepat Dosis: Sesuai dengan status hara tanah, kebutuhan tanaman, dan target hasil.

Tepat Waktu: Hara tersedia saat tanaman memerlukan dalam jumlah banyak

Tepat Cara: Penempatan pupuk di lokasi tanaman secara efektif mengakses hara

Hara tanah berasal dari pelapukan bahan induk, bahan organik, air irigasi dan hujan serta pengelolaan petani. Sehingga kesuburan tanah sangat erat hubungannya dengan bahan induk, pengelolaan bahan organik, dan dosis pemupukan.

Keseimbangan hara merupakan keseimbangan antara hara yang ditambah dan diambil tanaman yang muara pada suatu status hara. Jika hara yang ditambah lebih kecil dari hara yang diambil tanaman maka akan terjadi mining hara tanah (pengurasan), jika hara yang ditambah lebih besar dari hara yang diambil tanaman maka akan terjadi pengkayaan hara tanah (yang jika terjadi secara terus menerus maka akan terjadi kejenuhan) kemudian jika hara yang ditambah setara hara yang diambil tanaman maka yang demikian dinamakan pelestarian kesuburan tanah.

Produktivitas tanaman akan sangat tergantung dengan ketersediaan hara, dimana dibatasi oleh ketersediaan hara dalam tanah yang paling minimum.

Teknologi pendukung pemupukan berimbang dan prediksi kebutuhan pupuk dapat dilakukan dengan:

1.Peta status Hara P dan K, peta ini biasa digunakan untuk penyusunan kebutuhan pupuk
2.KATAM (Kalender Tanah), untuk penyusunan kebutuhan pupuk dan rekomendasi pupuk spesifik lokasi
3.Software (PHSL, PUPS, PKDSS, Sipapudi, Sipindo), untuk penyusunan rekomendasi pupuk spesifik lokasi
4.Perangkat Uji Tanah (PUTS,PUTK, PUTR), untuk penyusunan rekomendasi pupuk spesifik lokasi.

Gambaran dan penjelasan mengenai uji tanah sederhana melalui Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) dan Perangkat Uji Tanah Kering (PUTK) bisa teman-teman simak di pdf di bawah ini.



 





Selain melaui PUTS dan PUTK bisa digunakan pula software dan hardware pendeteksi hara tanah melalui sensor dan IoT. Saya ingin mencontohkan mengenai salah satu alat dan aplikasi tersebut yaitu Jinawi melalui video di bawah ini.





Jinawi merupakan sistem pintar rekomendasi pemupukan berbasis IoT yang terdiri dari sensor yang terintegrasi dengan aplikasi android RiTx Bertani.

Jinawi berfungsi memberikan informasi unsur N,P,K dan pH tanah secara real time, serta rekomendasi pemupukan yang presisi.

Jinawi di produksi oleh PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB) yang bisa dilihat selengkapnya di link berikut ini: https://msmbindonesia.com/jinawi/

Saya membayangkan bahwa petani-petani Indonesia bisa secara profesional menerapkan pemupukan berimbang ini melalui berbagai perangkat yang sudah tersedia. Tinggal bagaimana akses petani terhadap perangkat ini dipermudah dengan subsidi maupun sewa dengan harga murah. Sehingga konsep "The Lean Farm" atau bertani secara efektif dan efisien dapat dicapai melalui pemupukan berimbang.

Untuk teman-teman petani pemula atau yang ingin mempelajari lebih jauh mengenai pemupukan tetapi belum mengetahui jenis pupuk, anorganik khususnya, dan materi mengenai pemupukan pada umumnya, bisa menyimak beberapa file pdf di bawah ini. Selamat menyimak!
















Meskipun kita di Indonesia pada umumnya belum bisa menerapkan pertanian organik atau agroecofacture, yaitu pertanian yang kembali meniru cara alam bekerja sebagaimana yang dijelaskan di konsep "Blue Economy" di Buku Pertanian Postmodern karya Bapak Iwan Setiawan dkk, penggunaan pupuk kimia buatan harapannya bisa diefektifkan dan menjadi efisien penggunaannya, sehingga biaya produksi akan minimal dan menyebabkan harga pangan murah, margin keuntungan petani lebih tinggi, juga keseimbangan alam akan terjaga karena lahan tidak terdegradasi. Semoga hadir kebijakan yang pro kepada isu ini dan menjadi pertimbangan untuk pemerintahan selanjutnya, tidak hanya memikirkan subsidi pupuknya saja, tetapi juga KEBIJAKAN PEMUPUKAN BERIMBANG. Semoga!

Sunday, February 4, 2024

Berjasa Turunkan Kemiskinan, Tapi Petani Tak Kunjung Sejahtera

Berjasa turunkan kemiskinan, tapi petani tak kunjung sejahtera

Petani di Yogyakarta tengah memanen padi saat musim kemarau. Fresh Stocks/shutterstock


Peningkatan produktivitas pertanian tidak hanya berdampak secara langsung pada kinerja sektor pertanian, tapi juga pada kesejahteraan petani dan angka kemiskinan di Indonesia.

Menurut laporan terbaru “Indonesia Poverty Assessment” dari Bank Dunia, sektor pertanian serta sektor jasa dengan nilai tambah rendah–seperti pekerja kios dan restoran, pekerja kebersihan, dan pedagang kaki lima–menjadi roda penggerak utama pengentasan kemiskinan.

Sayangnya, di tengah sumbangsih positif sektor pertanian terhadap angka kemiskinan serta pertumbuhan ekonomi nasional, kesejahteraan petani masih menjadi tanda tanya.

Kegiatan pertanian yang cenderung bersifat padat karya (banyak menyerap tenaga kerja dengan upah rendah) juga memiliki produktivitas yang cenderung rendah. Produktivitas pekerja pertanian Indonesia (kontribusi pekerja terhadap keluaran hasil pertanian) hanya senilai US$3.419 (Rp 50,83 juta) per pekerja pada 2019. Ini lebih kecil dari Cina (US$5.281 per pekerja) dan Thailand (US$4.274), dan sedikit lebih tinggi dari Vietnam (US$3.074 per pekerja).

Bank Dunia menyebut, produktivitas yang rendah membuat 75% rumah tangga sektor pertanian dengan pengeluaran di bawah garis kemiskinan tidak mampu menyokong kebutuhan mereka dan keluar dari perangkap kemiskinan. Padahal, tenaga kerja sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan merupakan sektor dengan tenaga kerja terbesar. Ada sekitar 28,6% angkatan kerja berkecimpung di sana.

Berbagai kendala yang dihadapi dalam peningkatan produktivitas pertanian antara lain adalah kurangnya kualitas penyuluhan pertanian, keterbatasan akses pasar, dan kesenjangan infrastruktur. Ada juga masalah seperti kepemilikan lahan yang semakin kecil, kesulitan akses kredit, hingga biaya logistik pangan yang tinggi.

Kontribusi maksimum, pemasukan minimum

Bank Dunia menguraikan, sektor pertanian berkontribusi sebesar 53% terhadap pengurangan kemiskinan di wilayah pedesaan di Indonesia. Kemiskinan di wilayah pedesaan memang masih mendominasi tingkat kemiskinan nasional dengan angka 12,36% per September 2022.

Selain itu, data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang sebesar 13,3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di tahun 2021.

Namun, kontribusi sektor pertanian terhadap penurunan angka kemiskinan serta PDB belum diiringi dengan peningkatan nilai tambah yang signifikan bagi para pelaku di dalamnya. Rata-rata pemasukan bersih pekerja di sektor pertanian berkisar di Rp 1,5 juta per bulan pada 2022.

Nilai ini memang tak termasuk dalam kategori miskin menurut standar garis kemiskinan di pedesaan versi BPS yang sebesar Rp 484.209 per bulan. Namun, pendapatan rata-rata tersebut masih paling rendah dibandingkan dengan sektor ekonomi lainnya.

Rendahnya kesejahteraan petani terlihat dari pengeluaran rumah rangga pertanian (RTP) yang masih didominasi oleh pengeluaran untuk makanan sebesar 57,66%, dibandingkan dengan pengeluaran untuk nonmakanan sebesar 42,34%. Hal ini mengindikasikan petani masih perlu berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan makanan.

Tingkat pendidikan penduduk usia lima tahun ke atas di rumah tangga usaha pertanian dan rumah tangga buruh tani pun masih rendah. Sekitar 29,57% dan 29,69% dari populasi masing-masing tergolong rumah tangga tidak sekolah, dan sebanyak 29,70% dan 31,01% hanya tamat sekolah dasar.

Produktivitas tak sebanding

Selama ini produktivitas dan kesejahteraan petani ditakar menggunakan Nilai Tukar Petani (NTP). NTP adalah perbandingan harga yang diterima petani dan harga yang harus dibayarkan oleh mereka.

Secara nasional, berdasarkan data BPS, angka NTP di subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, serta perikanan hanya naik sebesar 0,61% dari tahun 2021 ke tahun 2022. Sebagai perbandingan, NTP naik 4,93% pada tahun sebelumnya.

Namun, data BPS menunjukkan, meskipun indeks harga yang diterima petani melalui komoditas produksinya meningkat sebesar 5,92% pada 2022, indeks harga yang dibayar oleh petani untuk konsumsi rumah tangga juga naik hingga dengan jumlah yang hampir sebanding, yaitu mencapai 5,28%. Pembayaran konsumsi rumah tangga mencakup makanan, minuman, dan perlengkapan rutin rumah tangga.

Di sisi lain, sudah banyak analisis yang menyebut NTP belum dapat menggambarkan kesejahteraan petani secara utuh. Sebab, NTP hanya mengukur harga tanpa mempertimbangkan penghasilan yang diterima para petani berdasarkan hasil panen dari luasan lahan garapannya masing-masing. Dengan luas lahan garapan yang relatif kecil, memang peran harga terhadap penerimaan petani bisa jadi tidak signifikan.

Risiko cuaca ekstrem serta bencana alam pun menambah risiko gagal panen. Hal tersebut semakin mengurangi nilai tambah kegiatan pertanian. Konteks geografis dan ekologis turut menjadi tantangan karena sistem budi daya dan strategi mata pencaharian (livelihoods) yang sangat dipengaruhi faktor bawaan, seperti ketinggian lahan, ketersediaan sumber air, dan kesuburan tanah.

Pemerintah mengalokasikan sekitar 2-3% dari PDB setiap tahunnya, atau sekitar Rp 15,31 triliun dari APBN 2023 untuk sektor pertanian. Subsidi pupuk juga merupakan anggaran subsidi non-energi terbesar, yakni 25-30% dari anggaran per tahun.

Kementerian Pertanian juga mengguyur anggaran peningkatan produktivitas, seperti bantuan alsintan (alat dan mesin pertanian), pembangunan jaringan irigasi, dan pengembangan keahlian petani. Jumlahnya sekitar 10% dari anggaran institusi per tahunnya.

Sayangnya, kebijakan pertanian tersebut tampak belum memprioritaskan peningkatan produktivitas. Anggaran subsidi pupuk, misalnya, berisiko memicu petani untuk fokus memproduksi tanaman bernilai rendah, namun justru mendapatkan anggaran jauh lebih tinggi dibandingkan pos anggaran Kementerian Pertanian lainnya. Lahan panen padi yang luas serta kebutuhan pupuk yang cukup intensif dari pertanian padi menyebabkan sekitar 60% permintaan pupuk oleh petani diserap oleh pertanian padi.

Kondisi ini memunculkan urgensi pentingnya pendekatan baru untuk pembangunan pertanian: dari yang bertumpu pada dukungan harga (market price support) ke peningkatan produktivitas dan nilai tambah. Caranya bisa melalui modernisasi, penggunaan teknologi, dan dukungan pembiayaan serta akses pasar.

Apa yang bisa dilakukan?

Terdapat beberapa hal yang bisa dilakukan untuk meningkatkan produktivitas. Pertama, perlunya peningkatan upaya untuk mengembangkan dan menggalakkan penggunaan benih unggul.

Pengembangan benih semestinya tidak hanya digalakkan untuk lembaga riset negara, tetapi juga perusahaan swasta. Untuk itu, regulasi yang merangsang usaha-usaha penangkaran dan perbanyakan benih sangatlah krusial.

Pada akhirnya, benih merupakan barang modal yang menentukan kualitas dan nilai produk petani. Usaha untuk memastikan efisiensi dalam produksi dan distribusinya amat penting.

Kedua, akses petani pada infrastruktur irigasi masih perlu ditingkatkan. Saat ini masih ada ketimpangan: hanya sekitar 50% dari petani di luar Jawa yang memiliki akses irigasi.

Di sisi lain, pembangunan irigasi di luar Jawa juga perlu memperhatikan faktor geografis, seperti kemiringan lahan.

Ketiga, perlu perubahan paradigma dalam memperlakukan pelaku usaha di sepanjang rantai pertanian (seperti pedagang pengumpul dan penggilingan) sebagai aktor penting yang turut menentukan nilai tambah produk petani. Hal ini bisa dilakukan, misalnya, dengan memberi insentif bagi mereka untuk berinvestasi pada fasilitas pengolahan pascapanen.

Keempat, upaya peningkatan produktivitas pertanian memerlukan sokongan investasi asing langsung (foreign direct investment atau FDI), terutama mengingat rendahnya realisasi FDI di sektor pertanian. Jumlahnya hanya mencapai 3%-7% dari total realisasi FDI di Indonesia selama 2015-2019.

Relaksasi kebijakan penanaman modal di sektor pertanian penting untuk mendorong investasi di bidang pengembangan teknologi, transfer pengetahuan, hingga integrasi yang lebih dalam pada rantai nilai global.

Pada akhirnya, keterbukaan ekonomi serta kepastian iklim investasi sektor pertanian dapat meningkatkan aspek keterjangkauan serta aksesibilitas pangan masyarakat.

Terakhir, seiring pertumbuhan ekonomi dan transformasi struktural, peran sektor pertanian dan ekonomi perdesaan memang normal mengalami penurunan. Hal ini merupakan tren yang terjadi di mana-mana seiring dengan industrialisasi dan pembangunan perkotaan.

Oleh karena itu, tetap akan ada pihak-pihak yang rentan tertinggal, misalnya buruh tani dan petani penggarap. Keterbatasan aset dan sumber daya yang dimiliki kelompok rentan ini juga menyulitkan upaya peningkatan produktivitas.

Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah dapat merumuskan strategi peningkatan kesejahteraan yang bertumpu pada pembangunan perdesaan dan kota-kota satelit demi meningkatkan kesempatan ekonomi, serta bantuan sosial secara terarah sebagai jaring pengaman.The Conversation

Aditya Alta, Researcher, Center for Indonesian Policy Studies dan Maria Dominika Mediana R B, Research Trainee at Center for Indonesian Policy Studies

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Cek Fakta: Benarkah Kita Kekurangan Lahan Pertanian dan Terancam Krisis Pangan?

Cek Fakta: Benarkah kita kekurangan lahan pertanian dan terancam krisis pangan?


Anggi M. Lubis, The Conversation dan Robby Irfany Maqoma, The Conversation

Penduduk tiap tahun nambah 3 juta orang per orang, butuh 120 kilogram beras per tahun. Lahan berkurang 100 ribu hektare (ha) per tahun. Jadi, kita cepat atau lambat kalau enggak menambah secara masif atau membuat lumbung pangan, kita pasti akan krisis pangan.

– Grace Natalie, Wakil Ketua Umum Tim Kampanye Nasional pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, dalam acara Catatan Demokrasi yang ditayangkan di kanal YouTube TVOneNews pada 23 Januari 2024.


Grace Natalie
Grace Natalie berinteraksi dengan pendukung pasangan calon nomor urut 2 dalam kampanye akbar di Semarang, Minggu, 28 Januari 2024. Tangkapan layar akun Instagram @gracenat


The Conversation Indonesia
menghubungi Riska Ayu Purnamasari, peneliti Innovation Center for Tropical Sciences (ICTS) untuk memverifikasi klaim Grace tersebut.

Analisis:

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pertambahan penduduk setiap tahun memang mencapai 3 juta jiwa dengan rincian jumlah penduduk dari tahun ke tahun adalah: 2020 sebanyak 270 juta jiwa, 2021 sebanyak 272 juta, 2022 sebanyak 275 juta, dan 2023 mencapai 278 juta jiwa.

Sementara, luas panen padi pada 2022 mencapai sekitar 10,45 juta ha, naik 40,87 ribu ha atau 0,39% dibandingkan luas panen padi di 2021 yang sebesar 10,41 juta ha.

Kenaikan menyebabkan produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada 2022 mencapai 31,54 juta ton, bertambah 184,50 ribu ton atau 0,59% dibandingkan produksi beras pada 2021 yang sebesar 31,36 juta ton.

Jika dikaitkan dengan konsumsi beras di tahun yang sama, menurut data Kementerian Pertanian,konsumsi beras di tahun 2022 sekitar 30.6 juta ton. Ini lebih besar dibanding konsumsi di tahun 2021 yang berkisar 30.04 juta ton. Namun hal ini masih setara dengan kenaikan produksi beras di tahun 2022. Jadi dapat disimpulkan bahwa produksi dan konsumsi beras sampai tahun 2022 masih mencukupi kebutuhan konsumsi Masyarakat.

Adapun luas panen padi pada 2023 menjadi 10,20 juta hektare, menurun sebanyak 255,79 ribu ha atau 2,45% dibandingkan 2022 sebesar 10,45 juta ha. Akibatnya, produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk menurun sebanyak 645,09 ribu ton atau 2,05% menjadi 30,90 juta ton, dibandingkan produksi tahun 2022 sebesar 31,54 juta ton. Fenomena cuaca kering El Nino diduga menyebabkan penurunan ini.

Hasil analisis:

Benar bahwa setiap tahun pertambahan penduduk mencapai 3 juta jiwa, tapi luasan panen padi juga bertambah—kecuali pada 2023, yang mungkin menurun karena El Nino. Data-data di atas juga menunjukkan bahwa produksi dan konsumsi beras sampai tahun 2022 masih mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Walaupun begitu, mengatasi krisis pangan bukan hanya dengan menambah produksi dan menambah luas lahan pertanian, tetapi juga meningkatkan akses masyarakat pada pangan yang sudah tersedia.


Artikel ini merupakan hasil kolaborasi program Panel Ahli Cek Fakta The Conversation Indonesia bersama Kompas.com dan Tempo.co, didukung oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI).The Conversation

Anggi M. Lubis, Business + Economy Editor, The Conversation dan Robby Irfany Maqoma, Environment Editor, The Conversation

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.