Saturday, September 25, 2021

My Riding Journey

Seperti pada judul artikel ini, aku akan sedikit menceritakan mengenai perjalanan ku belajar mengendarai sepeda motor. Mungkin bagi sebagian orang mengendarai motor adalah hal yang biasa saja, tidak ada yang spesial, tapi bagiku ini adalah salah satu pencapaian besar yang akan menjadi bekal bagiku untuk seumur hidup.


Aku belajar sepeda motor pertama kali pada tahun 2016 saat aku berusia 20 tahun. Waktu itu aku sedang menjalani semester 5 di Rekayasa Pertanian SITH ITB dan akan kerja praktek ke Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan sendirian, sehingga aku berpikir penting bagiku untuk belajar motor, karena siapa tau di tempat kerja praktek aku harus mengendarainya. Saat itu Mamah dan Aa Gaya, Kakakku, membelikan sepeda motor Yamaha Mio agar aku bisa gunakan untuk belajar motor. Bukan motor baru tapi cukup untuk mempersiapkan aku belajar motor. Aku pertama kali belajar didampingi oleh A Buris, setelah beberapa waktu latihan dilanjut oleh A Brey. Saat itu kemampuan mengendalikan motor ku masih payah, aku kesulitan mengendarai motor. Lalu setelah itu aku melanjutkan belajar dengan A Mpink tepat saat bulan Ramadhan sebulan sebelum aku pergi ke Sumatera Selatan. Dengan A Mpink latihan motor lebih diintensifkan dan aku mulai bisa mengendalikan motor sedikit demi sedikit. Dan di akhir bulan Ramadhan aku berhasil membawa motor dari Cicadas sampai Ujungberung ke tempat tinggalku meskipun masih belum benar-benar lancar. Lalu pergilah aku ke Sumatera Selatan, dan di sana ternyata skill motor ku tidak digunakan, karena aku lebih banyak diantar jemput disana. Pada semester setelahnya aku lebih disibukkan oleh Tugas Akhir dan mengejar nilai bagus, aku pun tidak pernah menyentuh motor lagi setelah itu.

Aku lulus kuliah pada tahun 2018, lalu setelah itu sibuk mencari pekerjaan dan harus juga ikut menjaga Mamah yang patah tulang, aku pernah ceritakan dipost sebelumnya. Karena itu aku pun tidak sempat memikirkan untuk melancarkan kembali belajar motor. Tibalah saat aku mulai bekerja di Griin.id pada Agustus 2021. CEO ku di Griin.id, Bang Ifan, mendorong ku untuk kembali melancarkan mengendarai motor, karena untuk kedepan dibutuhkan mobilitas yang lebih tinggi untuk kerjaan sehingga skill mengendarai sepeda motor sangat diperlukan. Saat itulah aku menghubungi Aa Gaya untuk menghubungi A Mpink untuk kembali mendampingiku belajar motor. Akhir nya aku mulai belajar motor lagi mulai tanggal 14 Agustus setiap weekend saat libur kerja. Karena terakhir aku mengendarai motor 5 tahun lalu pada 2016, aku sudah agak lupa lagi cara mengendarai motor, jadi aku mulai belajar dari awal lagi. Mulai dari mengendarai lurus, angka 8, sampai mencoba belok di jalan kosong dan lapangan. Alhamdulillah aku terus konsisten dan berprogress saat latihan motor tiap weekend. Ini video aku latihan motor di Taman Makam Pahlawan Cikutra pada 22 Agustus 2021.

 



Setelah cukup mahir mengendarai di jalan kosong dan lapangan, aku mulai belajar mengendarai di jalan komplek didekat rumah Kakakku di Kosar, Cijambe yang ada trek naik turun nya. Setelah cukup mahir, aku mulai mencoba di jalan hidup di sekitar Kosar-Cijambe-Pasirjati. Alhamdulillah aku bisa melalui uji coba-uji coba latihan tersebut. Pada awalnya aku mencoba membawa motor dengan membonceng A Mpink tapi perlahan aku mencoba membawa sendiri sambil diawasi A Mpink yang juga membawa motor sendiri. Akhirnya sampailah aku mencoba membawa motor ke jalan raya besar. Aku membawa motor ke Jalan A.H. Nasution dari rumah Kakakku di Cijambe ke rumah tinggal ku di Cigending pada tanggal 25 September 2021. Dan A Mpink memvideokan nya saat aku membawa motor di jalan raya besar.

 

Dan pekerjaan rumah ku saat ini adalah terus konsisten menambah pengalaman membawa motor di jalan, dan lalu tentu saja membuat SIM C. Semoga aku bisa segera mendapatkan SIM C ya. Ini adalah awal dari perjalanan panjang ku kedepan untuk berkendara. Modal yang baik dan berharga untuk dapat melancarkan aktivitas dan kerjaan ku ke depan sekaligus menjadi pengalaman berkesan dalam hidup ku. Semoga dengan post ini aku dapat mengenang lagi saat pertama-tama aku belajar motor dan menjajal jalan raya :)

Sunday, August 1, 2021

Belajar Meningkatkan Digital Skills Front-End Web Development dan AWS Cloud di Dicoding Indonesia Melalui Beasiswa

Halo semua, lama tak jumpa dengan aku, Dzikra Yuhasyra, di blog kesayangan ku ini. Oiya sebelum membahas mengenai belajar digital skills, aku mau update pekerjaan terbaru aku saat ini. Aku sudah bekerja menjadi Marketing, Sales, and Business Development Executive di Griin.id atau PT Gelora Rempah Inti Indonesia terhitung mulai bulan Agustus ini. Aku sudah melewati probation period selama 3 bulan mulai April - Juli 2021 dan sepakat untuk menjalin kerjasama kontrak kerja untuk beberapa waktu kedepan. Semoga semua hal yang berhubungan dengan pekerjaan selalu dilancarkan ya. Aamiin..

Mari sekarang kita membahas mengenai belajar digital skills. Sedari lulus kuliah di bulan April tahun 2018, aku sudah mulai memikirkan untuk mendalami dua skills yang sangat penting untuk aku pelajari lebih lanjut karena urgensi kebutuhan mengenai skill ini kedepan. Dua skill ini adalah digital skills dan skill finansial dan investasi. Setelah lulus aku memulai terlebih dahulu belajar mengenai skill finansial dan investasi. Sekitar bulan Agustus 2018 aku mengikuti Sekolah Pasar Modal Syariah dari BEI Jawa Barat. Dari SPM ini aku belajar mengenai investasi di pasar modal dan membuat akun saham syariah dan reguler di Mirae Asset Sekuritas. Aku pun mulai mempelajari sedikit demi sedikit mengenai bagaimana caranya berinvestasi dan meraih kebebasan finansial. Setelah satu skill berhasil aku pelajari tinggal skill yang kedua yaitu digital skills. Aku sempat berencana untuk kuliah singkat satu tahun untuk menambah skill ku di bidang digital khususnya pengembangan web dan mobile. Tapi hal tersebut tak jadi dilaksanakan karena sedang ada musibah yang menimpa keluarga ku pada akhir 2018. Mamah ku tercinta mengalami patah tulang dan harus dioperasi besar sehingga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga aku mengurungkan niat untuk mengikuti kuliah singkat selama satu tahun itu. Saat itu di tahun 2018, aku belum mengetahui ada online course keren mengenai coding seperti Dicoding Indonesia, dan aku pun lebih disibukkan untuk membantu merawat Mamah ku yang harus bed rest selama 1 tahun untuk memulihkan patah tulang sambil mencoba melamar-lamar pekerjaan, sehingga aku tidak fokus untuk mencari peluang dalam mengembangkan digital skills khususnya pengembangan web dan mobile.

Tibalah di bulan April di tahun 2020, setelah aku selesai intern di Neurafarm dan semakin menyadari pentingnya digital skill, khususnya di bidang pertanian, aku melihat di instagram ada platform online course mengenai coding dan menjadi developer yaitu Dicoding Indonesia dan sangat tertarik untuk belajar disana. Aku pun menemukan ada program beasiswa dari Indosat Ooredoo untuk belajar di platform Dicoding Indonesia, yaitu IDCamp. Ada beberapa path belajar yang bisa diambil diantaranya adalah Android dan Front-End Web Development. Wah, aku pikir ini sangat sesuai dengan keinginan ku untuk menambah skill di bidang pengembangan web dan aplikasi mobile. Saat akan mendaftar beasiswa IDCamp aku menimbang-nimbang apakah akan mengambil path android atau Front-End Web, dan akhirnya aku memutuskan untuk mengambil path Front-End Web karena levelnya lebih dasar/basic dan sederhana dibanding path android dan juga spek laptop ku tidak memenuhi syarat untuk spek path android karena termasuk laptop jadul dengan spek rendah. Hehe Akhirnya akupun mendaftar di path Front-End Web. Setelah mendaftar aku mendapat token belajar untuk diredeem di kelas dasar dan pemula yaitu kelas Belajar Dasar Pemrograman Web dan Belajar Fundamental Front-End Web Development. Dalam waktu kurang dari satu bulan aku berhasil menyelesaikan dua kelas ini. Dan ini adalah sertifikat kelulusannya.

 


   


Dan karena aku tidak lolos seleksi ke tahap kelas menengah dan expert, pada saat itu pembelajaran ku terhenti di dua kelas ini. Aku pun lebih banyak mengikuti event-event online di Dicoding dan akun-akun mengenai front-end web development di instagram.

Setahun kemudian di tahun 2021, aku menemukan peluang baru untuk belajar kembali di kelas expert melalui beasiswa Baparekraf Digital Talent. Dan akupun mendaftar kelas Menjadi Front-End Web Developer Expert melalui beasiswa ini dengan bekal telah menyelesaikan kelas Belajar Fundamental Front-End Web Development. Dan alhamdulillah aku pun diterima. Alhamdulillah setelah dua bulan lebih aku berjuang menyelesaikan modul dan mengerjakan 3 submission/tugas, aku berhasil lulus dari kelas expert ini. Dan ini sertifikatnya.

Dan dari kelas ini aku berhasil mendeploy website karya ku di Netlify.

Websitenya bisa dikunjungi di https://dzikra-resto-finder-catalogue.netlify.app

Aku pun membuat website sederhana untuk Boombox Monger komunitas kepunyaan Kakak ku


Websitenya bisa dikunjungi di https://boombox-monger.netlify.app

Selain di Front-End Web Development, akupun mempelajari dasar-dasar AWS Cloud di kelas Architecting on AWS (Membangun Arsitektur Cloud di AWS) dan Cloud Practitioner Essentials (Belajar Dasar AWS Cloud) dari beasiswa Amazon Web Services (AWS) dan Dicoding. Ini sertifikat nya.


Dan semoga setelah kedua kelas ini aku mendapatkan kesempatan untuk belajar path Back-End dan mendalami nya lebih lanjut.

Jadi untuk teman-teman yang ingin menambah digital skills, saat ini sangat terbuka lebar berbagai kesempatan untuk mendapatkan beasiswa dan belajar menambah kemampuan kita di bidang digital. Jangan pernah berhenti belajar dan berkembang ya. Kita pasti bisa! Semangat!

Saturday, April 10, 2021

Pengalaman Intern Di Griin.id

 


Pada Selasa, 6 April 2021 lalu saya baru menyelesaikan masa internship di Griin.id, salah satu startup sustainable integrated agriculture solution di Desa Tugu Mukti, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Saya masuk divisi GriinTech yang dikomandoi oleh Boy dan Bang Muhsin. Jadi intern di Griin ini dilakukan dengan melakukan proyek tertentu berkaitan dengan divisi yang dimasuki dengan durasi minimal 25 hari kerja. Terdapat tiga divisi utama di Griin.id yaitu GriinTech yang berhubungan dengan Agritech seperti penjualan sayur, akuaponik, dan instalasi serta kit hidroponik, Griin Industry yang berhubungan dengan Agroindustry seperti pembuatan tisane dan madu peppermint, dan Griin Goods yang behubungan dengan sales and marketing. Karena saya masuk divisi GriinTech, saya melakukan proyek yang berhubugan dengan Agrotechnology khususnya hidroponik. Setelah berdiskusi dengan supervisor saya Bang Muhsin proyek saya adalah pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) yang diharapkan bisa digunakan di instalasi hidroponik sebagai pengganti atau penambah nutrisi AB Mix, sehingga diharapkan hidroponik yang digunakan bisa menggunakan nutrisi organik bukan sintetis atau kimiawi sehingga lebih sehat. Dan rencananya saya membuat POC tersebut dari limbah yang dihasilkan di site Griin.id seperti bangkai ikan, sisa sayuran, dan limbah dapur. Saya pun memulai minggu pertama di Griin.id dengan brainstorming untuk menyiapkan presentasi awal sebagai rencana pelaksanaaan proyek. Setelah presentasi awal dilaksanakan, saya memulai minggu kedua dengan mengumpulkan limbah yang akan dipakai. Saya memutuskan untuk memakai limbah dapur yang ada di site yaitu nasi basi dan cangkang telur sehingga selama minggu kedua saya mengumpulkan dua limbah dapur tersebut. Pada awalnya saya juga akan membuat POC dari sisa sayuran dari greenhouse dan bangkai ikan dari sistem akuaponik, tapi dalam seminggu pengumpulan limbah tidak terdapat limbah sisa sayuran dan bangkai ikan yang dihasilkan sehingga saya beralih untuk menggunakan limbah kulit pisang yang didapat dari penjual gorengan di sekitar site. Dalam pengumpulan limbah dan pembuatan POC saya dibantu oleh Esa, rekan magang di periode bulan Maret. Esa melakukan proyek pembuatan video akuaponik melanjutkan proyek Tata yang sudah membuat proyek video hidroponik. Setelah seminggu pengumpulan limbah, tibalah minggu ketiga untuk pembuatan POC. Saya membagi pembuatan POC untuk masing-masing bahan. Nasi basi dan cangkang telur di botol bekas 1,5 Liter sedangkan kulit pisang di wadah komposter.






Setelah pembuatan POC selesai, dilakukan fermentasi selama kurang lebih dua minggu. Diminggu keempat atau minggu pertama fermentasi, saya melakukan progress report dan mulai menyiapkan rencana bagaimana menguji hara POC ini. Tadinya saya akan menguji hara POC secara kuantitatif di laboratorium Balitsa tapi ternyata membutuhkan waktu yang cukup lama sekitar satu setengah bulan dengan harga yang cukup mahal. Sehingga diambil keputusan bahwa untuk pengujian hara POC dilakukan dengan secara kualitatif menggunakan instalasi hidroponik sederhana dari botol bekas. Setelah dua minggu fermentasi dan POC jadi, saya langsung menguji POC di instalasi hidroponik sederhana pada semaian pakchoy.  Dilakukan empat perlakuan untuk menguji hara POC yaitu perlakuan air saja, perlakuan POC saja, perlakuan AB Mix saja, dan perlakuan POC dicampur dengan AB Mix.



Dan lalu diamati dan dicatat pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun selama tujuh hari untuk mengetahui pengaruh masing- masing perlakuan. Ini adalah foto hasil pengamatan instalasi hidroponik sederhana di hari ke tujuh. Foto pertama merupakan foto perlakuan AB Mix Saja, foto kedua foto perlakuan AB Mix dan POC, foto ketiga foto perlakuan POC Saja, dan foto keempat foto perlakuan Air Saja.


 

 

Dapat terlihat kalau pertumbuhan yang paling baik adalah pada perlakuan AB Mix Saja dan lalu berurutan  pada perlakuan di foto selanjutnya. Meskipun POC yang dibuat belum efektif menyamai efektivitas hara AB Mix tapi sangat berpotensi untuk diteliti oleh peserta intern selanjutnya bahwa POC dapat mengurangi dosis AB Mix atau menjadi tambahan bagi nutrisi AB Mix. Apalagi proyek POC yang saya buat masih kekurangan unsur hara Nitrogen. Dan setelah pengamatan selesai, keesokan harinya  saya melakukan  presentasi akhir disupervisori oleh Bang Muhsin dan Boy dan di hari terakhir intern tepat di hari ke 25 hari kerja saya mengepack POC ke botol 1,5 Liter dengan tiga perbandingan. 





Ini beberapa foto kenang-kenangan selama di site.














Saya sangat senang dan bersyukur bisa melaksanakan intern di Griin.id dan melihat project-project di GriinTech dan Rumabhumi seperti Bhumi Pesantren di Al-Kasyaf atau hidroponik di rooftop perkantoran seperti di Elcorps yang membukakan mata bahwa bisnis di bidang pertanian masih sangat banyak peluang yang bisa dieksplor dan digali lebih dalam. Semoga bisa bertemu lagi teman-teman Griin.id!