Wednesday, August 19, 2020

Anak Kota (Berani) Bertani?

 

Halo, aku Dzikra Yuhasyra, alumni Rekayasa Pertanian SITH ITB angkatan 2013, aku tinggal di kampung kota di wilayah timur Kota Bandung yang sepertinya masuk kawasan peri urban, karena termasuk berada di wilayah antara desa dan kota. Di wilayah tempat tinggal ku, di kawasan kampung kota ini, jamak ditemui lahan pertanian lebih banyak pemukiman padat penduduk, harus sedikit berkendara ke atas ke arah kaki Gunung Manglayang baru lahan pertanian ditemui, itu pun bukan sentra produksi sayuran atau padi yang masif seperti Lembang ataupun kawasan pantura Jawa. Karena lebih dekat dengan pasar tradisional, lebih banyak masyarakat di kampung ku berprofesi menjadi pedagang atau menjadi pekerja kantoran yang nglaju ke pusat kota, sangat jarang yang berprofesi sebagai petani. Sehingga dari kecil masalah-masalah yang sering aku temui adalah masalah-masalah urban dan peri urban di kota besar, seperti kemacetan, polusi udara, masalah sanitasi dan pencemaran, kepadatan penduduk, ataupun kesemrawutan pasar tradisional khas perkotaan. Sangat jarang aku menemukan masalah-masalah agrikultur, agribisnis, atau kesejahteraan petani yang mayoritas ada di pedesaan. Seperti yang aku tulis pada tulisan sebelumnya, aku masuk Rekayasa Pertanian SITH ITB karena aku menyukai pelajaran biologi dan keresahan ku melihat berita media tentang bidang pertanian yang terkesan dipinggirkan dan selalu pesimistis untuk sukses karena yang diberitakan baik di koran atau TV hanya berita gagal panen dan paceklik, jarang sekali berita inspirasi sukses petani di desa. Menjadi anak kampung kota yang berada di posisi itu menjadi keuntungan sekaligus kerugian untukku untuk terjun ke bidang pertanian. Keuntungan karena tidak ada hambatan dari keluarga dan lingkungan terdekat untuk terjun kuliah dan menekuni bidang pertanian tapi sekaligus kerugian karena tidak pernah ada pengalaman real langsung bagaimana hidup di desa dengan permasalahan agrikultur dan agribisnis sebagai petani, sehingga sosok petani hanya aku ketahui dengan sumber dari “katanya”, baik kata dosen, kata buku, kata jurnal, atau kata media tapi tidak pernah mengalami langsung. Sehingga aku sendiri tidak pernah mengalami kesulitan dan penderitaan langsung petani yang tinggal di desa dan melihat realita di lapangan. Waktu kuliah lapangan Agroekologi, salah satu mata kuliah di Rekayasa Pertanian SITH ITB, aku pernah mewawancarai peternak sapi perah yang tidak ingin anaknya menjadi peternak juga karena beban kerja yang sangat berat dan lebih ingin anaknya kerja kantoran di kota. Sedangkan anak kampung kota yang tidak pernah merasakan beban itu malah tertantang ingin mencoba untuk menjadi petani dan peternak lalu hidup di desa. Tidak ada yang salah dengan hal itu, tapi seperti yang dikatakan Pak Tomy Perdana dosen Agribisnis Unpad pada salah satu seminar yang saya ikuti, dikhawatirkan tekad anak kota yang ingin berkecimpung di dunia pertanian hanya sebatas keinginan sesaat dan tidak ditekuni serius serta mendalam. Pak Tomy menyebutkan hal tersebut bisa terlihat dari banyak nya startup pertanian bermunculan tapi tidak bisa bertahan lama dan tidak bisa konsisten berdiri. Itu juga yang dirasakan saya sebagai anak kampung kota yang masih kurang nyali untuk menggarap lahan pertanian dan memang kenyataannya tidak punya lahan kosong untuk digarap. Tapi dewasa ini, ada gerakan lain yang muncul yaitu urban farming melalui maraknya dan menjamurnya hidroponik. Tentu ini menjadi angin segar bagi anak kota yang ingin bertani, tapi apabila ditinjau lebih dalam hal ini belum menyelesaikan permasalahan agrikultur yang ada di desa. Muncul juga gerakan permakultur dan pertanian alami untuk digalakan di kota yang tentu menjadi angin segar juga bagi anak kampung kota seperti ku. Tapi realisasi permakultur di wilayah perkotaan mengalami banyak hambatan dan kendala terutama karena terbatasnya lahan. Dan sekali lagi hal ini belum menjadi solusi bagi masalah agrikultur di desa. Jadi anak kota berani bertani? Masih menjadi pertanyaan yang harus di jawab penulis yang sekarang ternyata masih terjebak mencari pekerjaan kantoran di kota untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Friday, July 24, 2020

Memori: Video Pagelaran Upacara Bubuka Agenda Badag Sundaland 2014 LSS ITB


Saya baru saja mengupload di YouTube video pagelaran saya di LSS ITB di tahun 2014. Siapa tahu ada yang belum tahu dan mau menonton. Pagelaran ini juga menjadi bukti bahwa budaya Sunda itu sangat kaya atau "beunghar pisan". Jadi ayo lestarikan budaya luhur bangsa dengan "ngamumule budaya Sunda". Prung ah :)

Sunday, July 12, 2020

Sebuah Opini Kritis Alumni. Agricultural Engineers: "Apakah Hanya Mengurusi Rancang Bangun Alat dan Mesin Pertanian atau Juga Berperan Dalam Rekayasa Produksi Biomassa Tumbuhan dan Sumberdaya Hayati?"


Menurut Wikipedia, definisi dan peran Agricultural Engineers adalah

“Agricultural engineers may perform tasks such as planning, supervising and managing the building of dairy effluent schemes, irrigation, drainage, flood water control systems, performing environmental impact assessments, agricultural product processing and interpret research results and implement relevant practices. A large percentage of agricultural engineers work in academia or for government agencies such as the United States Department of Agriculture or state agricultural extension services. Some are consultants, employed by private engineering firms, while others work in industry, for manufacturers of agricultural machinery, equipment, processing technology, and structures for housing livestock and storing crops. Agricultural engineers work in production, sales, management, research and development, or applied science.

 

 In the United Kingdom the term Agricultural Engineer is often also used to describe a person that repairs or modifies agricultural equipment.” [1]

[1] https://en.wikipedia.org/wiki/Agricultural_engineering


Sedangkan menurut website Rekayasa Pertanian SITH definisi dan peran Agricultural Engineers adalah:


“Program Sarjana Rekayasa Pertanian merupakan program pendidikan interdisipliner untuk menghasilkan professional agriculture engineers yang mampu menjawab tantangan masalah terkini di bidang pertanian. Untuk mendukung hal tersebut, disusun tujuan pendidikan Program Sarjana Rekayasa Pertanian untuk menghasilkan profesional yang:

- Handal dan tangguh untuk mengembangkan sumberdaya hayati yang berkelanjutan, berkontribusi dalam memenuhi swasembada produk pertanian dan peningkatan kualitas hidup masyarakat Jawa Barat dan Indonesia umumnya.

- Sebagai perancang sistem produksi biomassa pertanian yang efisien secara biologis dan ekonomis pada berbagai kondisi lingkungan dengan mengadopsi termuan terkini pada bidang sains dan teknologi, dan mencapai potensi maksimal melalui pebelajaran seumur hidup.” [2]

[2] https://rp.sith.itb.ac.id/tujuan-program-studi/


Dari dua definisi di atas terdapat dua perbedaan kontras definisi secara umum, dari Wikipedia terutama dari definisi di United Kingdom disebutkan bahwa seorang Agricultural Engineers adalah orang yang memperbaiki dan memodifikasi alat dan mesin pertanian (alsintan) sedangkan menurut website Rekayasa Pertanian SITH ITB, Agricultural Engineers adalah seorang perancang sistem produksi biomassa pertanian yang efisien secara biologis dan ekonomis pada berbagai kondisi lingkungan.

Jadi sebuah pertanyaan kritis dari penulis adalah,

Apakah seorang Agricultural Engineers hanya berperan sebagai “orang yang merancang bangun alat dan mesin pertanian” atau juga sebagai “perekayasa produksi biomassa tumbuhan dan sumberdaya hayati”?

Mari kita simak!


Mari kita lihat Teknik Pertanian Unpad. Di website HIMATETA (Himpunan Mahasiswa Teknik Pertanian) Unpad dijelaskan bahwa,

“Pada bagian akhir studinya, mahasiswa program studi Teknik Pertanian FTIP Unpad akan menentukan bidang keahlian atau spesialisasinya. Spesialisasi ini ditandai dengan mata kuliah pilihan, PKL dan penelitian skripsi. Idealnya ketiga hal ini sejalan sehingga materinya saling menunjang dan mahasiswa mendapatkan spesialisasinya secara utuh. Bidang kajian tersebut yaitu:

  1. Alat dan Mesin Pertanian

  1. Teknik Tanah dan Air

  1. Teknik Pengolahan Pasca Panen

  1. Sistem dan Manajemen Mekanisasi Pertanian.” [3]

[3] http://himateta.ftip.unpad.ac.id/index.php/tentang-program-studi-teknik-pertanian/


Sehingga dapat terlihat bahwa Teknik Pertanian Unpad lebih condong kepada definisi Wikipedia dimana Agricultural Engineers lebih ke orang yang merancang bangun alat dan mesin pertanian dan hal yang berhubungan dengan keteknikan pertanian serta kurang berhubungan dengan rekayasa efisiensi produksi biomassa tumbuhan dan sumberdaya hayati sebagaimana definisi website Rekayasa Pertanian SITH ITB.

Mari kita lihat Teknik Mesin dan Biosistem IPB. Di laman Wikipedia dijelaskan bahwa,

“Dengan berbagai pertimbangan, terutama mengenai perkembangan bidang ilmu dan minat masyarakat, pada tahun 2010 nama Departemen Teknik Pertanian berubah menjadi Teknik Mesin dan Biosistem (TMB). Perubahan juga terjadi pada bagian-bagian di dalam departemen. Terdapat 4 bagian yang baru, yaitu :

[4] https://id.wikipedia.org/wiki/Departemen_Teknik_Mesin_dan_Biosistem_Institut_Pertanian_Bogor


Sedangkan kompetensi lulusan dari program studi sarjana Teknik Mesin dan Biosistem adalah,

“Setelah menyelesaikan program studi ini lulusan mampu menguasai ilmu pertanian dan biosistem, dasar-dasar keteknikan, alat dan mesin pertanian, ilmu sistem dan manajemen, sistem kontrol dan instrumentasi, sumberdaya alam dan lingkungan, pengolahan hasil pertanian dan pangan, energi dan eletrifikasi, teknologi informas dan komunikasi, dan etika profesi keteknikan serta kewirausahaan.” [5]


[5] http://kms.ipb.ac.id/1132/1/_Learning%20Outcomes%20S1%20TMB.pdf


Sehingga dapat terlihat bahwa Teknik Mesin dan Biosistem IPB lebih condong kepada menggabungkan definisi Wikipedia dimana Agricultural Engineers lebih ke orang yang merancang bangun alat dan mesin pertanian dan hal yang berhubungan dengan keteknikan pertanian dengan definisi website Rekayasa Pertanian SITH ITB yaitu rekayasa efisiensi produksi biomassa tumbuhan dan sumberdaya hayati, karena di dalam Teknik Mesin dan Biosistem IPB terdapat divisi yang membahas kedua definisi tersebut yaitu, Teknik Mesin dan Otomasi (TMO), Teknik Biosistem (TBS), Teknik Energi Terbarukan (TET), dan Teknik Bioinformatika (TBI) serta kompetensi lulusannya pun menggabungkan kompetensi dua definisi tersebut.



Mari kita lihat Teknik Pertanian dan Biosistem UGM. Menurut website nya, learning objective dari Teknik Pertanian dan Biosistem UGM adalah,


“Program Educational Objective (PEO)


Within a few years of graduation, graduates are expected to have established themselves as practicing engineers who:

Are able to apply fundamental engineering principles including mathematics, physical science, biological science, and engineering science, as well as system and management.

Are able to serve the engineering needs in the areas of energy and agricultural machinery, land and water resources, food and agricultural products, as well as environment and ecosystems.

Are successfully employed as a designer, manager, system analyst, science and technology developer, or entrepreneur.

Are able to be engaged in professional development and life-long learning throughout their careers.

Have interpersonal and collaborative skills and the capacity for productive and advancing careers in leadership roles as well as exhibit effective communications skills.


Learning Objectives (Competence)

Able to identify, understand, and explain sustainable tropical industrial agricultural system using principles of agricultural engineering science.

Able to design and construct, as well as to manage natural resources, equipment, industrial processes in an environmentally friendly tropical agricultural systems using the principles of agricultural engineering science

Able to perform scientific communication effectively and responsive to the application of science and technology in the field of agriculture engineering.

Able to perform an experiment, as well as to analyze and interpret data to improve the performance of agriculture and biosystems.

Able to show a professional and innovative work in the field of agricultural engineering in accordance with ethical norms of public life.

Able to evaluate or analyze the sustainable tropical industrial agricultural system using principles of agricultural engineering science

Able to apply a competitive technology based on local raw materials and local wisdom in tropical industrial agriculture. “ [6]

[6] https://tpb.tp.ugm.ac.id/en/profil/organisasi/visi-misi



Meskipun tidak dijelaskan secara rinci di website nya, tapi Teknik Pertanian dan Biosistem UGM berfokus pada “energy and agricultural machinery, land and water resources, food and agricultural products, as well as environment and ecosystems” yang terlihat hampir sama dengan Teknik Pertanian Unpad. (Mohon dikoreksi apabila kurang tepat). Sehingga dapat lebih condong kepada definisi dari Wikipedia yaitu dimana Agricultural Engineers lebih ke orang yang merancang bangun alat dan mesin pertanian dan hal yang berhubungan dengan keteknikan pertanian serta kurang berhubungan dengan rekayasa efisiensi produksi biomassa tumbuhan dan sumberdaya hayati sebagaimana definisi website Rekayasa Pertanian SITH ITB. Meskipun menurut video profil Teknik Pertanian dan Biosistem UGM di YouTube [7] disebutkan pula terdapat laboratorium Biofisik yang berkaitan dengan biofisik tumbuhan dan hewan.

[7] https://www.youtube.com/watch?v=_7cAd6zGoKQ


Mari kita simak dari Departement of Agricultural and Biosystem Engineering di Iowa State University, Amerika Serikat. Di website nya dijelaskan bahwa,


“The Agricultural Engineering Profession

As an agricultural engineer, you apply your knowledge of the biological, physical, and engineering and technical sciences to solve problems for the world’s largest industry ­ — the agriculture and food system. Here’s just the beginning of the things you could do:

  • Design, development, and testing of advanced machinery systems for agricultural, food, and bioenergy production systems

  • Evaluation, development and modeling of systems for sustainable protection and improvement of soil and water resources

  • Design and development of environmentally and economically sustainable animal production systems

  • Development and evaluation of management systems to insure food quality, safety and biosecurity

  • Manage complex agricultural and biological systems


Option Areas of Study

1. Power Machinery and Engineering: This area challenges the creative mind to design and improve upon the next generation of off-road vehicles and agricultural equipment.

2. Land and Water Resources Engineering: This emphasis enables you to design and evaluate soil and water conservation systems to mitigate and improve the environmental impacts of production agriculture. Areas of study also include GIS and natural resource management, water quality, and environmental engineering.

3. Animal Production Systems Engineering: This option allows you to focus on all aspects of animal productions including structural design and analysis, environmental control options for housed animals, and air quality issues associated with animal production.” [8]



[8] https://www.abe.iastate.edu/undergraduate-students/agricultural-engineering/

Sangat kontras terlihat bahwa apabila di Iowa State University lebih condong kepada definisi Wikipedia dimana Agricultural Engineers lebih ke orang yang merancang bangun alat dan mesin pertanian dan hal yang berhubungan dengan keteknikan pertanian serta kurang berhubungan dengan rekayasa efisiensi produksi biomassa tumbuhan dan sumberdaya hayati sebagaimana definisi website Rekayasa Pertanian SITH ITB.

Di Rekayasa Pertanian SITH sendiri pada kurikulum terbaru 2019 termasuk pada kurikulum 2013 dimana penulis masih menjadi mahasiswa, Mesin Pertanian hanya merupakan mata kuliah pilihan dan tidak wajib diambil oleh mahasiswa, tetapi pada kurikulum 2019 terdapat mata kuliah baru yaitu Sistem Otomasi Pertanian yang berkaitan dengan rancang bangun sistem pertanian. Sedangkan sedari awal Rekayasa Pertanian berdiri, kurikulum dan tujuan pembelajaran lebih diarahkan pada konsep efisiensi produksi biomassa secara biologis dan ekonomis yang ditopang oleh mata kuliah seperti Neraca Massa dan Energi Biosistem (NME) atau Neraca Massa dan Energi Sistem Hayati pada kurikulum sekarang atapun pada mata kuliah seperti Peristiwa Perpindahan Dalam Biositem (PPDB) atau Peristiwa Perpindahan Dalam Sistem Hayati pada kurikulum sekarang. Dan mata kuliah sisanya lebih cenderung gabungan antara mata kuliah di program studi Agroteknologi dan Agribsinis, seperti mata kuliah Fisiologi dan Perkembangan Tumbuhan, Media Tumbuh, Perlindungan Pertanian Terpadu, Teknik Pemuliaan, Teknologi Benih, Agroekologi, Pertanian Organik, Sosiologi Pertanian, Ekonomi Pertanian dan mata kuliah lainnya serta mata kuliah yang berhubungan dengan keteknikan pertanian seperti Rekayasa Sumberdaya Air dan Lahan serta Mekanika Fluida. Sehingga dapat terlihat bahwa Rekayasa Pertanian SITH ITB merupakan ‘gado-gado’ atau campuran antara program studi Teknik Pertanian, Agroteknologi, dan Agribisnis di Universitas lain, sehingga mungkin diharapkan dapat lebih komprehensif dalam menjawab persoalan pertanian di lapangan dan tentu dapat menjadi keuntungan dan kelebihan tersendiri bagi mahasiswa dan alumni Rekayasa Pertanian SITH ITB yang meskipun menjadi “generalis” tetapi dapat lebih komprehensif karena mempelajari mata kuliah setara 3 program studi di Universitas lain yaitu Teknik Pertanian, Agroteknologi, dan Agribisnis.


Jawaban dari pertanyaan di judul diatas, “Agricultural Engineers: Apakah Hanya Mengurusi Rancang Bangun Alat dan Mesin Pertanian atau Juga Berperan Dalam Rekayasa Produksi Biomassa Tumbuhan dan Sumberdaya Hayati?” ternyata dapat memiliki berbagai jawaban tergantung dari kekhasan program studi sarjana yang ada. Karena tentu setiap program studi memiliki kelebihan dan Unique Value Proposition masing-masing yang membuat nya lebih unggul. Sehingga kesimpulan penulis saatnya untuk meniadakan dikotomi perbedaan definisi dan peran yang ada karena kedua definisi dan peran tersebut tidak lah salah tetapi saling melengkapi dan ayo bersama mari kita berperan untuk kemajuan dan kejayaan pertanian Indonesia. Semangat berkontribusi :)

Tuesday, June 9, 2020

Indonesia Emas 2045


Indonesia Emas 2045. 100 tahun Indonesia Merdeka. Visualisasi Indonesia Emas 2045. Keren :D

Wednesday, May 20, 2020

Mimpiku Untuk Pertanian Indonesia




Sekilas dalam benakku dulu sebelum menjadi mahasiswa Rekayasa Pertanian ITB, pertanian adalah hal yang tidak begitu "seksi". Yang ada dibenakku adalah potret petani tua yang kotor-kotoran di sawah, kelelahan habis mencangkul seharian, dan keuntungan yang tak seberapa dibanding tenaga yang terkuras setiap hari. Pertanian bukan menjadi bidang primadona yang diidam-idamkan dalam menjalani karir. Setelah aku lulus dari Rekayasa Pertanian ITB, bayangan tentang hal tersebut ternyata tidak bergeser jauh, pertanian masih menjadi bidang yang sulit untuk digeluti karena permasalahan kompleks dan rumit untuk diselesaikan. Ya kompleks, karena mulai dari cara budidaya yang harus sesuai Good Agricultural Practices, masalah hama dan penyakit tanaman yang sulit dibasmi, ketiadaan air karena cuaca yang tak menentu, ketiadaan benih unggul, mahalnya pupuk dan pestisida, tenaga yang terkuras setiap hari tapi penghasilan hanya pada periode panen dan selebihnya harus mencari penghasilan tambahan, sampai pemasaran produk yang harus diurusi dengan serius agar tidak ada kerugian. Semuanya terlihat menyusahkan dan melelahkan. Tak heran generasi muda yang ingin jadi petani berkurang drastis. Tapi dari situlah ternyata muncul mimpi-mimpiku tentang pertanian Indonesia. Aku bermimpi bagaimana teknologi terkini mengubah "mindset" tentang permasalahan pertanian yang kompleks. Adanya revolusi industri 4.0 juga harus dirasakan bidang pertanian. Dan hal tersebut mulai tampak dari munculnya berbagai startup di bidang pertanian. Ada yang membuat sistem sensor pertanian otomatis dengan menggunakan internet of things (IoT) sehingga pemupukan dan penyiraman dapat dikontrol sedemikian rupa, ada yang membuat aplikasi untuk mendeteksi penyakit tanaman hanya dengan melalui foto daun yang terinfeksi, ada yang membuat aplikasi kerjasama bisnis pertanian yang menghubungkan investor dan petani sehingga petani tidak kesulitan mencari modal, dan inovasi-inovasi lainnya. Aku bermimpi aku ada dalam bagian dari solusi dan inovasi kekinian tersebut. Aku bermimpi bahwa pertanian akan dekat dengan generasi muda dan tidak menjadi alergi karenanya. Aku bermimpi potret petani tua yang kesusahan tak lagi ada. Dan aku bermimpi bahwa suatu saat negeri ini akan makmur karena devisa produk-produk pertaniannya dan menjadi penopang pembangunan poros utama. Semoga :)

Thursday, April 23, 2020

Wednesday, February 26, 2020

Rekomendasi Netflix


Beberapa hari lalu saya mulai berlangganan Netflix bersama dengan adik tingkat saya di Rekayasa Pertanian dan dua temannya. Dan saya menonton beberapa series, movies, dan documentary yang menambah insight baru serta menarik untuk disimak dan tentu saya merekomendasikannya untuk ditonton oleh teman-teman. Ini beberapa list nya :

1. The Creative Brain
 
To be more creative, we need to (1) Try something new, (2) Push boundaries, to create something that's not too new or too familiar but somewhere in between, (3) Don't be afraid of failure. To succed in that future, we need to cultivate creativity. As human, to create something that's not already exist before.


2. Sustainable



We have a hope to make organic farming as sustainable agriculture. The world needs sustainable agriculture, and organic farming is one of the option. For the future of our children and their children.


3. Cowspiracy



Jadi solusi menuju sustainable world menurut Cowspiracy adalah mengajak semua orang untuk menjadi vegan dan melakukan plant-based diet. Apakah mungkin? Hmm interesting. Siap untuk menjadi vegan?



4. Rotten

Another recommended series about international trade and issue about agriculture, agribusiness, and food supply chain. I have already watched about bitter chocolate, garlic breath, and avocado war. I will continue to watch another episode :)


5. Inside Bill's Brain: Decoding Bill Gates



Try to know about Bill Gates vision for the better world. Toilet and sanitation, eradicating disease, and safe nuclear energy.

6. What The Health
Another documentary film that suggest to be a vegan and do whole plant-based diet for better health and better environment. Are you ready to be vegan to save your health?


Happy watching. Selamat menonton :)

Tuesday, February 4, 2020

The Lean Farm Guide to Growing Vegetable: More In-Depth Lean Techniques for Efficient Organic Production

Setelah membaca lean principle dan lean management diterapkan pada farming di The Lean Farm, yaitu bagaimana meminimalkan waste, meningkatkan efisiensi, memaksimalkan value dan profit yang ada pada farming, aku memutuskan untuk membaca buku kedua dari Ben Hartman yang lebih menjelaskan mengenai teknik produksi organik pada sayuran yaitu "The Lean Farm Guide to Growing Vegetable: More In-Depth Lean Techniques for Efficient Organic Production." Pada buku ini dijelaskan lebih detail tentang cara-cara berproduksi sayuran secara organik dari mulai awal sampai akhir dan komponen-komponen apa saja yang diperlukan, dan tentu tetap menerapkan lean principle yaitu:

1. Keep only the tools that add value
2. Let the customer define value
3. Identify the steps that add value
4. Cut out the muda - anything that does not add value
5. Practice Kaizen - Continuous Improvement

Seperti kata Eric Ries, "Reading is Good, Action is Better." Mempelajari sesuatu untuk menjadi landasan adalah baik dan dan akan menjadi lebih baik apabila diterapkan dengan action di kemudian hari. Semoga bisa :)

Friday, January 24, 2020

The Lean Farm


Setelah membaca beberapa buku tentang Lean Principles dan Lean Management khusus nya di startup, aku penasaran apakah prinsip yang serupa bisa diterapkan pada farming atau agriculture? Dan ternyata jawabannya bisa dan dapat tergambar di buku "The Lean Farm" ini.

Sedikit kutipan: 
"Good farmers are keen observers of nature, adjusting their moves and their strategies everyday."

"A farmer's work is more like that of a horse trainer than a mechanic. More like that of a healer than a computer repairperson. It is not really accurate to say that farmer grow food or raise animals, farmers alter environmental condition to such way as to maximize a plant's or animal's innate ability to do its own growing -in the same way that the best horse trainers seek to draw out abilities already within their horse or in the way the best healers know when to stand back and let their patient's bodies do the work. There is mystery in farming."

"While lean methods can make that work more efficient, they should not be used to completely remove nature from farming, even if less nature sometimes means easier more profitable farming. A lively and dynamic nature is both the core challenge and the core ingredient of farming. When farmers apply lean with with right intentions -to restore the earth and increase the health of families and local community- their farmers can produce lots of food and fall into alignment with nature."